Kemiskinan Jadi Kendala Pengobatan TB Tulang Anissa

Bocah lima tahun bernama Annisa divonis mengalami TB tulang sejak satu setengah tahun silam. Tubuhnya kini kaku, namun penanganan medis belum maksimal karena keterbatasan ekonomi.

Kemiskinan Jadi Kendala Pengobatan TB Tulang Anissa' photo

ACTNews, BOGOR Rumah kontrakan dengan tiga ruangan dan satu kamar mandi tak jauh dari Stasiun Bojong Gede, Kabupaten Bogor menjadi tempat tinggal Annisa Fitria (5). Ia tinggal bersama 11 anggota keluarga lainnya. Kontrakan itu per bulannya harus dibayar dengan harga Rp 550 ribu dan belum termasuk listrik.

Annisa merupakan bocah yang divonis mengalami tuberkulosis (TB) tulang. Penyakit itu telah dideritanya sejak satu setengah tahun belakangan. Kini, di usianya yang ke-5, Annisa tak seperti bocah seumurannya. Ia hanya bisa terbaring dengan tubuh yang kaku dan beratnya semakin berkurang.

Patonah, ibu Annisa, Jumat (6/9), menuturkan, Annisa terlahir normal seperti anak pada umumnya. Hingga usia tiga setengah tahun, Annisa tumbuh baik dan ceria. “Sampai umur tiga setengah tahun, Annisa normal. Yang paling saya rindu kalau dia manggil saya ‘mama’, tapi sekarang sudah enggak bisa lagi,” kenangnya.

Gejala awal TB tulang yang Annisa derita ialah kejang-kejang. Ketidaktahuan gejala serta keadaan ekonomi yang rendah membuat Patonah dan keluarga Annisa lainnya hanya memeriksakan ke dokter tanpa tindak lanjut. Walau Annisa sempat menjalani perawatan di rumah sakit umum daerah, perawatan ini tak dilanjutkan karena tak adanya biaya.


Annisa merupakan anak ketiga. Patonah sendiri tak memiliki penghasilan, sedangkan suaminya pergi tanpa kabar. Rumah kontrakan itu dihuni 12 jiwa. Saking sesaknya, Patonah harus tidur di emper kontrakan, sementara Annisa di dalam rumah agar tak diterpa dingin angin ketika malam.

Kaki Annisa kini mengecil, beratnya tak seperti anak seusianya. Selang melintang di wajah bocah itu, masuk ke hidung, dan terus hingga ke lambung. Patonah mengatakan, selang itu digunakan untuk memasukkan susu karena mulut anak ketiganya itu tak dapat digerakkan. “Annisa cuma minum susu, enggak bisa makan yang lain, pakai selang ini yang diganti dua pekan sekali,” ungkap Patonah sambil sesekali mengusap air mata.

Secara rutin, selang yang terpasang di hidung Annisa diganti. Hal ini dilakukan agar selang tetap steril dan tak dapat memicu penyakit lain. Penggantian selang dilakukan di RSUD dan biaya ditanggung jaminan kesehatan. Akan tetapi, untuk transportasi, Patonah harus mengeluarkan biaya sendiri. Tak adanya penghasilan sama sekali membuat beban tersendiri untuk melakukan pengobatan bagi anaknya.

Di rumah sewaan itu, Djohari (50) menjadi kepala keluarga. Ia merupakan kakek dari Annisa. Kondisinya sediri saat ini mengalami strok sejak lima tahun lalu. Sehari-hari, ia hanya dapat merebahkan tubuh dengan komunikasi agak terganggu.


Lima anak Djohari, termasuk ibu dari Annisa tinggal, di rumah sewaan itu. Anak-anak dan istri Djohari sendiri bekerja sebagai pemulung dan pengamen di sekitar Bojong Gede. Tak jarang, mereka berjualan tisu dan kantong plastik di Masjid Istiqlal ketika ada acara besar. Keterpurukan ekonomi keluarga selama bertahun-tahun menjadi faktor utama Annisa tak dapat menjalani pengobatan medis dengan maksimal.

"Kondisi ekonomi keluarga Patonah tak kunjung membaik dari tahun ke tahun. Dengan penghasilan yang terbatas, pengobatan TB tulang Annisa tak bisa total. Oleh karena itu, kami mengajak para dermawan untuk membantu Annisa pulih dari TB tulang. Sejak Agustus lalu hingga kini, kami sudah mendampingi Annisa untuk perawatan medis. Semoga Annisa dapat berangsur membaik," ungkap Nurjannatunaim selaku Koordinator Mobile Social Rescue (MSR)-ACT, Senin (9/9).

Jumat (6/9) lalu, tim MSR-ACT berkunjung kekediaman Annisa dan keluarganya untuk mengantarkan paket pangan, paket gizi, serta kursi roda untuk kebutuhan Annisa serta kakeknya, Djohari. Pendampingan akan terus dilakukan terhadap Annisa dan keluarganya. Pasalnya, walau biaya pengobatan Annisa ditanggung jaminan kesehatan, biaya lain tak ditanggung, bahkan tak semua jenis pengobatan dikover.

“Keluarganya juga kami edukasi karena ketidaktahuan mereka soal medis dikhawatirkan berpengaruh pada kesehatan Annisa dan keluarganya,” jelas Nur, Jumat (6/9).

Selain pendampingan medis, tim MSR-ACT saat ini sedang membantu pengurusan administrasi kependudukan keluarga Annisa. Catatan kependudukan yang belum diperbarui membuat tak semua keluarga Annisa mendapatkan jaminan kesehatan. Penggalangan dana secara daring juga masih berlangsung melalui www.kitabisa.com/campaign/msrannisa hingga Jumat (13/9) mendatang. []

Bagikan