Kemiskinan Jerat Keluarga Salama Attaallah Alqidairi

Kondisi kamp pengungsian wilayah Nusreait sangat memprihatinkan. Listrik mati, tingkat pengangguran dan kemiskinan tinggi, pasokan air yang tercemar, hingga termasuk dalam rawan pangan. Di tempat itu lah keluarga Attaallah tinggal.

Keluarga Salama saat berada di rumahnya
Keluarga Salama saat berada di rumah yang tidak layak karena hanya terbuat dari terpal dan beratapkan seng. (ACTNews)

ACTNews, GAZA — Kemiskinan warga Palestina di kamp pengungsian tak bisa dihindarkan. Banyak kamp pengungsian kumuh dan tidak layak huni. Dinding terbuat dari terpal seadanya dan lantai yang masih beralaskan tanah. Kondisi ini juga yang dialami keluarga Salama Attaallah Alqidairi.

Salama Attaallah Alqidairi dan keluarga saat ini menempati kamp pengungsian yang berlokasi di Nuserait, Wadi Gaza, Middle Area. Kehidupan mereka berada di bawah garis kemiskinan.

Wilayah Nuserait tempat mereka bermukim merupakan salah satu wilayah kamp pengungsian internal Palestina. Kondisi kamp pengungsian wilayah Nusreait sangat memprihatinkan. Listrik mati, tingkat pengangguran dan kemiskinan tinggi, pasokan air yang tercemar, hingga termasuk dalam rawan pangan. 

Salama tinggal bersama keempat anaknya di tenda yang lusuh, mereka melakukan aktivitas sehari-hari di situ. Menurut laporan Tim Global Humanity Response-ACT, hunian yang mereka tempati sangat tidak layak sebab hanya menggunakan terpal dan seng. 

“Kondisi hunian tak mampu melindungi mereka dari mencekamnya musim dingin,” kata Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response-ACT, Ahad (14/3/2021).

Anggota keluarga mereka pun menderita penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan intensif, namun tak ada biaya. ACT melalui program Sister Family Palestine-Indonesia berikhtiar membantu keluarga Salama. Bagi para dermawan yang ingin menjadi bagian dari proses mensejahterakan warga Palestina bisa melalui Indonesia Dermawan.[]