Kemiskinan, Luka Lain Warga Rohingya di Bangladesh

Para pengungsi Rohingya tidak bisa berharap lebih di Bangladesh. Negara berpenduduk hampir 162 juta jiwa itu juga masih berkembang. Para pengungsi harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di sana.

Ilustrasi. Salah satu pengungsi Rohingya di Cox's Bazar menerima bantuan beras dari Kapal kemanusiaan Rohingya. (ACTNews)

ACTNews, COX’S BAZAR Tidak ada orang yang menginginkan hidup di tempat yang tidak aman dan penuh dengan tekanan. Namun bagi etnis Rohingnya, nasib tersebut tidak bisa dielak, mereka pun terpaksa mengungsi di negara lain. 

Saat ini, salah satu suaka terbesar bagi etnis Rohingnya adalah Cox’s Bazar, Bangladesh. Sekitar 855.000 warga Rohingya tinggal di 34 kamp darurat Cox’s Bazar.   Para pengungsi Rohingya tidak bisa berharap lebih di Bangladesh. Negara berpenduduk hampir 162 juta jiwa itu  juga masih berkembang. Para pengungsi harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di sana.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada Mei-Desember 2020, Sejumlah 377.411 pengungsi di Cox’s Bazar hidup di bawah garis kemiskinan. Pandemi Covid-19 mempengaruhi mata pencaharian pengungsi, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor pertanian dan informal. Pada umumnya, pengungsi kehilangan USD 11,7 hingga USD 35,22 atau sekitar Rp 150 ribu- 400 ribu per minggunya. Harga pangan yang  tinggi  juga membuat daya beli pengungsi menjadi rendah.

FAO juga menjelaskan, sektor rumah tangga mungkin akan terdampak banyak dari berkurangnya mata pencaharian para pengungsi Rohingya. Hal itu berdampak pada termasuk penurunan jumlah konsumsi, peningkatan angka putus sekolah, kekerasan berbasis gender, hingga  penjualan aset produktif.

Bangun Kembali Kehidupan Rohingya

Sepanjang konflik kemanusiaan besar-besaran atas etnis Rohingya pada 2017, Aksi Cepat Tanggap senantiasa berikhtiar memberikan bantuan terbaik. Di awal eksodus pengungsi Rohingya ke Bangladesh Agustus 2017 lalu, ACT segera membangun hunian 1.000 hunian layak. Kompleks hunian sementara ini akan dibangun di Blok EE, Kamp Ukhiya, Kutupalong, Cox's Bazar.

Empat tahun berjalan, ikhtiar tersebut terus berjalan. Melalui ragam program kemanusiaan yang lebih banyak, ACT mengajak sahabat dermawan untuk tidak berhenti membantu pengungsi Rohingya.

Firdaus Guritno dari Tim Global Humanity Response-ACT menjelaskan, di tahun ini, program-program untuk membersamai pengungsi Rohingya antara lain hadir dalam bantuan pangan, tempat tinggal, bantuan musim dingin, hingga persiapan Ramadan. “Bersama kembali bangun kehidupan pengungsi Rohingya. Dukungan para dermawan, amat begitu berarti. Mereka membutuhkan bantuan para dermawan Indonesia, untuk bisa bangkit kembali,” kata Firdaus.[]