Kemiskinan Makin Menjerat Keluarga Mervat Alhawy di Musim Dingin

Mervat Alhawy amat yakin putra-putrinya tidak punya pakaian baru sejak lima tahun lalu. Musim dingin tengah berlangsung, mereka lebih khawatir karena tidak punya pakaian hangat.

sister family palestine-indonesia
Mervat Alhway di rumahnya di kawasan Deir Al Balah, Gaza. (ACTNews)

ACTNews, DEIR AL BALAH – Mervat Alhawy mengunci pintu kamar, satu-satunya ruangan yang mereka punya. Ia dan anak-anaknya menutup jendela yang selalu menganga dengan kain nilon. Kondisi itu hampir ia lakukan di setiap cuaca berangin di musim dingin. Mervat mengajak keempat anaknya berkumpul di satu ruangan. Dua selimut yang hanya mereka miliki dipakai bersama untuk melindungi tubuh.

Mervat Alhawy adalah salah satu keluarga prasejahtera di Gaza. Kemiskinan dampak dari perang saudara membuatnya tidak lagi bisa membayar tempat tinggal yang layak. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan yang kerap diberikan orang yang lebih mampu. Di dapurnya, hanya satu tungku yang menyala, hanya ada satu piring dan empat sendok, dan satu-satunya panci yang sering ia gunakan untuk memasak.

“Malu demi Allah (untuk keadaan keluarga), tetapi saya ingin membuat perubahan di keluarga saya. Kami berharap ada orang-orang baik yang dapat membantu membangun kembali rumah kami,” kata Mevat saat mitra Aksi Cepat Tanggap menengok keadaannya akhir Oktober 2020 lalu. Ia pun berharap, bangunan yang sudah melindungi ia dan keluarga selama 13 tahun itu dapat kembali diperbaiki.

Berdasarkan data Badan PBB untuk Pembangunan Palestina, sedikitnya 28.366 rusak di lima kegubernuran di Gaza pada serangan Israel 2014 lalu. Data itu adalah hasil asesmen cepat yang dilakukan UNDP untuk Palestina.

Permukiman warga menjadi bagian yang paling terdampak dari serangan tujuh minggu itu. Pada Juli 2014, militer Israel membombardir tanah, laut, dan udara Gaza. Banyak kerugian yang terjadi, diperkirakan 2.100 orang meninggal, termasuk 5.821 anak-anak. Satu dari empat orang Gaza harus mengungsi, lebih dari 60.000 tempat tinggal di Gaza rusak parsial, fasilitas umum di Gaza tidak berfungsi dan menimbulkan krisis air, pangan, bahkan energi. Pertanian, industri, dan penjualan turun bebas.[]