Kemiskinan Membelenggu Warga Desa Cipelem

Sejumlah 70 persen masyarakat Desa Cipelem, Kabupaten Brebes, berada dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Meski potensi ekonomi pertanian tinggi, namun mayoritas masyarakat hanya menjadi kuli bukanlah pemilik lahan.

kemiskinan desa cipelem
Tarlem saat duduk di pintu depan rumahnya yang diberi tanda masyarakat miskin penerima PKH. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, BREBES – Saat berkunjung ke Desa Cipelem, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, sekilas tidak ada yang berbeda dengan suasana desa-desa lainnya. Jalan sudah beraspal, meski banyak yang berlubang, rumah-rumah warga layak huni, juga hamparan sawah di sisi kiri dan kanan jalan. 

Namun, di balik keindahan lanskap desa, perekonomian warga Cipelem masih prasejahtera. Sawah-sawah yang ada hanya dimiliki sekelompok orang. Sementara mayoritas penduduk hanya menjadi buruh tani yang bekerja tak tentu waktu. 

Salah seorang penduduk Desa Cipelem, Tarlem mengatakan,  upah menjadi buruh tani adalah Rp50 ribu sekali kerja selama setengah hari. Namun, jumlah tersebut akan berkurang jika para pekerja diberi makan siang. 

“Kalau diberi makan jadinya Rp40 ribu. Namanya kuli di sawah, yang punya sawah pasti nyarinya yang kuat-kuat (tenaganya). Kalau kayak saya yang sudah tua, tidak laku, iya enggak ada yang ngajak (jadi kuli),” kata Tarlem saat diwawancarai ACTNews di rumahnya, Kamis (14/10/2021). 

Tarlem tinggal di rumah berukuran 6x7 yang lantainya masih tanah. Untuk membayar kebutuhan listrik dan makan sehari-hari, Tarlem dibantu anak dan saudara. Sementara untuk kebutuhan air, menggunakan sumur.  

Ketua RT 03 RW 07 Desa Cipelem Dulatif menjelaskan, mayoritas warga di wilayahnya bekerja sebagai buruh tani. Petani dan pedagang sangat sedikit. Sementara sebagai buruh pabrik atau karyawan nihil.