Kemiskinan Menggelayuti Penyintas Tsunami Selat Sunda

Delapan bulan pascatsunami Selat Sunda, warga Desa Waymuli Induk, Lampung Selatan, masih berjuang memenuhi kebutuhan harian akibat hilangnya sumber mata pencaharian.

Kemiskinan Menggelayuti Penyintas Tsunami Selat Sunda' photo

ACTNews, LAMPUNG SELATAN – Untuk mencapai kompleks hunian sementara Dusun 4, Desa Waymuli Induk, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, warga atau pengunjung harus melalui jalan menanjak yang cukup curam dan jauh dari Jalan Pesisir. Jalan ini merupakan jalan utama yang menghubungkan antara Desa Waymuli dengan Kota Kalianda, kota kecamatan yang juga terletak di Kabupaten Lampung Selatan. Topografi jalan menuju Dusun 4 curam karena wilayah ini terletak di kaki Gunung Rajabasa.

Ketika masuk ke area Dusun 4, pemandangan seketika dipenuhi oleh rumah-rumah papan yang didominasi warna putih. Deretan rumah mungil ini dihubungkan oleh gang-gang kecil yang dilapisi dengan paving block. Sementara itu, hiasan berupa botol dan gelas plastik yang dicat merah dan putih digantung pada seutas benang melintasi jalan utama dusun sebagai persiapan menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada Sabtu (17/8).

Penghuni kompleks hunian sementara ini adalah para penyintas yang berhasil selamat dari musibah tsunami yang menerjang Lampung dan Banten pada 22 Desember 2018 lalu. Banyak dari mereka masih menyimpan kisah pilu tentang kehilangan sanak saudara ketika ombak besar meluluhlantakkan rumah mereka.


Suasana kompleks hunian sementara Dusun 4, Desa Waymuli Induk

Maimunah (47) adalah salah satu penyintas tsunami Selat Sunda yang kehilangan suaminya. Ketika bencana itu terjadi, Maimunah tengah menonton TV bersama keluarganya. “Saya mendengar suara seperti angin ribut, kemudian juga ada suara seperti gludug. Saya pun mematikan TV, khawatir tersambar petir. Tiba-tiba air sudah masuk rumah,” paparnya kepada ACTNews di sela kesibukan mempersiapkan Syukuran Qurban, Senin (12/8).

Maimunah menambahkan bahwa seketika itu juga ia tak sadarkan diri, tidak tahu di mana suami dan keluarganya. Ketika sadar, ia sudah terlempar sampai ke pinggir jalan. Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya dia mendapat pertolongan dari warga sekitar. “Saya lihat di samping saya ada tangan, dan saya pun sadar itu tangan suami saya. Saya berkata kepada suami saya, ‘Pak, air laut naik, ayo selametin diri. Tapi dia nggak bergerak,” paparnya menceritakan kisah pilu yang terjadi akhir Desember lalu.


Maimunah kehilangan suaminya dalam peristiwa memilukan akhir Desember 2018 lalu.

Kemiskinan pascabencana

Kesedihan yang menimpa Maimunah tidak berhenti di situ saja. Delapan bulan setelah bencana yang merenggut nyawa suaminya, dia masih harus berjuang secara ekonomi setelah tidak lagi memiliki tulang punggung keluarga. Hingga kini, Maimunah masih mengharapkan uluran tangan dari para dermawan yang peduli. “Kehidupan ekonomi kami masih berantakan. Kami tidak memiliki pekerjaan dan masih mengharapkan bantuan dari para dermawan yang mau ikhlas menolong kami,” tutur Maimunah deengan suara bergetar.

Nasib yang sama juga menimpa Asliha (54) atau yang akrab dipanggil Among. Asliha yang juga kehilangan suaminya tidak memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari. “Kalo yang masih ada suami, mungkin suaminya bisa melaut, bisa berkebun. Saya yang sudah nggak ada suami. Pengen lah saya dikasih pekerjaan apa saja, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Asliha.

Sayangnya, tsunami yang menerjang akhir Desember 2018 kemarin tidak hanya mempengaruhi kebutuhan para wanita yang kehilangan suaminya. Para lelaki di kompleks hunian sementara pun belum dapat kembali bekerja secara penuh. Di kampung yang hampir sembilan puluh persennya berbahasa Sunda Banten tersebut, kebanyakan lelakinya bekerja sebagai nelayan. Tsunami telah menghancurkan banyak perahu nelayan, yang imbasnya juga berpengaruh pada mata pencaharian para nelayan di Desa Waymuli Induk.

 

“Jika kami terus-menerus bergantung pada bantuan, ketika bantuan habis kami mesti makan apa?” kata Asliha

“Semenjak kejadian tsunami, para nelayan di Desa Waymuli belum dapat beraktivitas seratus persen akibat perahu-perahu yang rusak. Kami masih menantikan bantuan perahu. Bukan berarti kami bergantung pada bantuan, namun kenyataannya beginilah keadaan di sini yang sulit,” papar Ida Yunita, Koordinator Kompleks Hunian Sementara Dusun 4. Walaupun bukan termasuk korban yang terdampak tsunami, Ida sangat peduli dan bersimpati dengan penderitaan para penyintas tsunami. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaannya sebagai Koordinator Dapur Umum Aksi Cepat Tanggap (ACT) setalah bencana tsunami Selat Sunda, hingga keikutsertaannya sebagai koordinator Syukuran Qurban di Waymuli Senin (12/8) lalu.

“Mereka sangat mengharapkan mata pencaharian mereka dapat kembali seperti sebelum terjadinya tsunami. Saya setiap hari mendengarkan keluh kesah mereka. Mereka ingin memiliki mata pencaharian kembali sehingga mereka tidak lagi bergantung pada bantuan. Bukan berarti mereka hidup di hunian sementara ini, hidup mereka sudah mandiri,” papar Ida sambil berlinang air mata.

Ida juga berterima kasih kepada ACT yang selalu memperhatikan para korban tsunami sejak awal bencana hingga kini. “Sampai saat ini pun hanya ACT yang terlihat di mata kami. Hanya ACT yang menyentuh hati kami. Oleh karena itu, kami sangat terharu dengan kehadiran ACT. Kami sangat bersyukur dan sangat berterima kasih,” pungkas Ida dengan suara menahan tangis. []

Bagikan