Kemitraan Efektif Global Wakaf untuk Edukasi Wakaf di Indonesia

Kemitraan Efektif Global Wakaf untuk Edukasi Wakaf di Indonesia

GlobalWakaf, JAKARTA - Bicara tentang wakaf, tak bisa dimungkiri bahwa kekuatan filantropi Islam yang satu ini belum terlalu populer dalam perbincangan sehari-hari masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin, hanya segelintir komunitas masyarakat di negeri ini yang mengerti konsep wakaf atau minimal mengetahui definisi dari istilah wakaf dalam penjelasan paling mudah sekalipun. Kondisi inilah yang kini menghampar masalah pelik untuk segera dicarikan jalan keluarnya. Sekian dekade pertumbuhan pesat ekonomi Indonesia, bahkan sejak bangkit dari sengkarut krisis ekonomi medio 99 silam, nyatanya wakaf belum menjadi kekuatan filantropi yang populer di negeri ini.

Padahal potensi tanah wakaf di Indonesia membubung begitu dominan. Tengok saja sebuah riset dari Salamudin Daeng, peneliti dan pengamat ekonomi dari The Institute for Global Justice (IGJ), Ia mengungkapkan kepemilikan lahan secara besar-besaran itu dilindungi oleh Undang-Undang No. 25 Tahun 2007. Sejak diterbitkannya Undang-Undang ini para pemilik modal diperbolehkan untuk menguasai lahan paling lama selama 95 tahun. Faktanya, hingga hari ini, ada 175 juta hektare lahan atau setara dengan 93 persen luas daratan di Indonesia yang direngkuh total oleh para pemilik modal swasta maupun asing. Dari jumlah tersebut, ada segelintir elit atau sekira 0,2 persen penduduk Indonesia yang menguasai 56 persen aset nasional dalam bentuk kepemilikan tanah.

Menyimak data ini, tak bisa ditampik lagi potensi wakaf di Indonesia tersimpan setiap jengkal luasan negeri. Namun kini tanah-tanah produktif yang potensial itu terlanjur dikelola hanya oleh segelintir elit, tanpa peduli dengan nasib ratusan juta lain penduduk Indonesia. Wajar jika di negeri ini masih tetap berlaku adagium ‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin terjerembab dalam kemiskinan’.

Masalah edukasi tentang wakaf produktif pun menyeruak menjadi pekerjaan rumah. Kekuatan filantropi wakaf yang telah sekian abad dipraktikkan dalam perkembangan ekonomi Islam belum meresap dalam keseharian. Selama ini, wakaf dan aplikasi filantropinya hanya ditafsirkan untuk membangun pemakaman, masjid, dan pesantren atau sekolah. Bukan menyasar pada bentuk terapan modal yang produktif untuk membangun umat, menguatkan roda ekonomi bangsa.

Padahal, sudah lebih se-dekade lalu urusan tentang wakaf di atur secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf. Badan Wakaf Indonesia sebagai lembaga independen di bawah negara untuk mengelola wakaf pun telah dibentuk sebagai amanah lanjutan dari lahirnya UU Wakaf No. 41 Tahun 2004.

Enggan berdiam diri menumpuk permasalahan wakaf di Indonesia, Global Wakaf sebagai salah satu lembaga wakaf independen pun mencoba menjalin kemitraan efektif dengan Badan Wakaf Indonesia. Aliansi dua lembaga ini akan mengurai strategi untuk dua problem: edukasi wakaf produktif, dan penggarapan program wakaf produktif untuk ribuan hektare aset lahan wakaf produktif di seluruh Indonesia.

Penandatanganan kerjasama kemitraan ini efektif berlaku sejak Rabu (29/6) lalu. Dalam sebuah gelaran yang dihelat Badan Wakaf Indonesia bertajuk “Focus Group Discussion: Potensi Wakaf Sebagai Tulang Punggung Perekonomian Nasional” di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

“Kini, Badan Wakaf Indonesia dan Global Wakaf Foundation sepakat untuk memulai edukasi wakaf produktif. Edukasi ini tentang potensi besar wakaf produktif. Tentang nilai wakaf yang bisa mendulang profit demi menyokong ekonomi bangsa. Jika wakaf non produktif hanya akan berakhir pada cost centre, wakaf produktif membalik logika itu. Wakaf produktif menggerakkan pemanfaatan nilai wakaf menjadi profit atau manfaat yang luas,” ungkap Hafit Mas'oed, Direktur Integrated Digital Marketing ACT dan Global Wakaf Foundation. []

Penulis: Shulhan Syamsur Rijal
 

Tag

Belum ada tag sama sekali