Kenali Dispepsia Sejak Dini

Sering merasa panas, kembung, mual, dan nyeri pada perut? Bisa jadi itu adalah tanda mengalami dispepsia. Berikut penjelasan dr. Annisa Kartikasari dari Humanity Medical Services ACT.

Kenali Dispepsia Sejak Dini
Salah satu tim Humanity Medical Services ACT dr. Annisa Kartikasari. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Dispepsia adalah istilah medis yang digunakan untuk tanda dan gejala gangguan pencernaan yang berulang tanpa penyebab yang jelas. Penderita dispepsia seringkali merasa perut nyeri, kembung, dan nyeri ulu hati. Sayangnya, kerap kali gejala ini dianggap enteng bagi sebagian orang. Dokter Annisa Kartikasari dari Perwakilan Humanity Medical Services Aksi Cepat Tanggap (ACT) secara gamblang menyampaikan gejala, faktor, dan cara mencegah penyakit ini.

Gejala dispepsia

Kepada ACTNews, Annisa menuturkan, gejala yang dialami seseorang saat terkena dispepsia adalah rasa panas terutama pada area perut bagian atas, nyeri perut, perut kembung (terasa penuh), sering bersendawa, mual, muntah, rasa asam pada mulut, dan perut keroncongan.

Penyebab dispepsia

  1. Wanita lebih berisiko terkena dispepsia.
  2. Penggunaan obat pereda nyeri tertentu yang dijual bebas di pasaran, seperti aspirin dan ibuprofen yang dapat menyebabkan masalah pada perut.
  3. Merokok.
  4. Terkena infeksi bakteri Helicobacter pylori.
  5. Masalah psikologis, yakni berupa gangguan kesehatan mental baik stres maupun kecemasan yang berisiko mengganggu masalah pencernaan.

Kapan harus ke dokter?

Saat mengalami gejala dispepsia yang bertambah parah, Annisa mengimbau, agar orang yang mengalami dispepsia harus segera membuat janji kepada dokter. Tanda-tanda gejala yang perlu diperhatikan yakni mengalami muntah darah, tinja berwarna gelap dan bertekstur lembek, sesak napas, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, dan nyeri yang menjalar ke rahang, leher atau lengan kiri.

Pencegahan dispepsia

  1. Makan dengan perlahan dengan porsi secukupnya agar perut tidak perlu bekerja terlalu keras dan lama.

  2. Mengurangi dan menghindari asupan makanan dan minuman berlemak tinggi, terlalu pedas, kadar asam tinggi, dan kafein.

  3. Jika mengalami gangguan psikologis, hendaknya mempelajari metode mengelola stres dan kecemasan, seperti teknik relaksasi.

  4. Berhenti merokok dan meminum alkohol.

  5. Menghindari pakaian ketat yang cenderung menekan bagian perut.

  6. Jangan berolahraga dengan perut penuh atau setelah makan. Sebaiknya, berolahraga sebelum makan atau satu jam setelah makan.

  7. Jangan berbaring setelah makan.

  8. Jangan tidur setelah makan, tunggu setidaknya selama tiga jam setelah makan terakhir.

  9. Memperhatikan posisi tidur, yakni posisi kepala yang ditinggikan dan menggunakan bantal untuk menopang. Hal ini akan membantu proses pencernaan ke usus dibanding naik ke kerongkongan.[]