Keran Air yang Kering Sepanjang Tahun di Yaman

Keran Air yang Kering Sepanjang Tahun di Yaman

Keran Air yang Kering Sepanjang Tahun di Yaman' photo

ACTNews, SANA’A – Jeriken berwarna kuning, putih, juga biru sudah dijejerkan sejak pagi. Di atas tanah berdebu dan gersang, deretan penampung air mini itu jadi makin tambah lusuh. Persis di sebelah deretan jeriken yang tak ada isinya, tertanam paten sebuah tangki penampungan air, juga sama tak ada isinya.

Tangki itu sudah beberapa hari belakangan kosong melompong tidak berisi sama sekali. Sementara itu, ratusan pemilik jeriken sedang menunggu harap, menunggu kapan keran air di bawah tangki itu bisa dibuka untuk mengalirkan air bersih.

Selagi di ibu kota Jakarta juga sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami musim hujan lebat di antara pagi, sore hingga malam, tidak begitu dengan sebuah negeri bernama Yaman. Derasnya aliran air bersih sudah begitu dirindukan di Yaman. Negeri yang sedang didera kemelut konflik sejak Maret 2015 silam itu tetap gersang, kering tanpa hujan deras berbulan-bulan terakhir.

Melaporkan langsung dari Yaman, Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Yaman - Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, kegersangan di Yaman telah berlangsung sepanjang tahun. Akibatnya, air bersih menjadi sangat langka. Tidak ada sumur yang bisa diandalkan untuk mengalirkan air bersih. 

Mengabarkan dari sebuah lokasi bernama Al Mahwa Bani Hwat, di Distrik Bani Al Harad, Kota Sana’a, Rudi mengatakan, kebutuhan air bersih sudah dalam fase krisis. “Saya berada di sebuah desa tempat pengungsi internal Yaman tinggal. Mereka mayoritas berasal dari Hodeida, kota pelabuhan yang sekarang menjadi pusaran konflik. Di sini kebutuhan air bersih ironis sekali, kering, berdebu,” cerita Rudi.

Siang itu, di pekan terakhir November 2018, Rudi Purnomo dari Al Mahwa Bani Hwat menyimak langsung puluhan keluarga berjalan kaki jauh, demi mencapai tangki air yang tetap kosong. “Mereka sudah berjalan jauh ke pinggir jalan tempat tangki air ini, tapi tetap kosong. Belum ada bantuan air yang datang sampai ke sini. Mereka hanya menunggu bantuan air bersih datang,” ujar Rudi.

Menunggu truk air datang

Lembaran foto ditransmisikan Rudi lewat jaringan internet terbatas di Sana’a. Beberapa perempuan muda Yaman, dengan anak-anak balita duduk di atas jeriken yang mereka bawa dari rumah, menunggu kapan truk bantuan air tiba. Walau menanti tanpa kepastian, ceria mereka tetap terekam.

Padahal tidak ada air bersih di zona perang itu berarti menambah dua kali lipat beban hidup. Tidak ada air, tidak punya pekerjaan, menjadi pengungsi internal, tidak ada makanan. Belum lagi dengan kolera yang mematikan datang merebak, penyakit kulit yang mewabah, lengkap dengan konflik pelik yang tak kunjung usai.

“Mereka sangat butuh air bersih. Hampir semua warga di Desa Al Mahwa Bani Hwat ini terkena kolera dan penyakit kulit lainnya karena air bersih yang hampir mustahil ditemukan. Tidak ada air berarti tidak ada yang bisa dimasak, tidak ada air bersih berarti kebutuhan untuk minum dan MCK tidak bisa terpenuhi,” tutur Rudi.

Khalid, yang merupakan Kepala Desa Al Mahwa Bani Hwat, bertutur kepada Rudi, di desanya sudah sejak lama semua hidup miskin. Kondisi ini pelik ini makin menjadi dengan kedatangan keluarga pengungsi baru asal Hodeidah. Khalid mengatakan, desanya ketambahan sedikitnya 503 keluarga pengungsi asal Hodeidah.

“Mereka tinggal menyewa rumah atau ditampung di rumah-rumah warga lokal. Total kini sudah ada 1010 keluarga di desa kami, setengahnya lebih adalah pengungsi internal,” kata Khalid.

Berjalan menjauh dari deretan jeriken kosong yang dijejerkan di antara tiupan debu Kota Sana’a, Rudi menemukan juga sumur-sumur yang gagal digali. “Di gang-gang kumuh desa ini, mereka berusaha menggali air, tapi sepertinya air tanah memang tidak ada, praktis hanya mengandalkan bantuan air yang tidak tahu kapan datang,” kata Rudi.

Merespons cepat krisis air di Yaman khususnya di Kota Sana’a, Rudi memastikan kalau Aksi Cepat Tanggap akan terus melanjutkan upaya pengiriman air bersih setiap hari. “Krisis air bersih di Yaman meroket jadi salah satu masalah paling pelik. (Distribusi air) ini akan jadi proyek utama ACT selain implementasi bantuan pangan,” kata Rudi. 

Delapan juta anak Yaman tidak mendapat air bersih

Serupa dengan cerita yang dikirimkan Rudi langsung dari Sana’a, Badan Dunia untuk Anak-Anak (UNICEF) baru-baru ini merilis data tentang krisis air di Yaman. Berbicara lewat Twitter, UNICEF mengatakan lebih dari 8,6 juta jiwa anak-anak Yaman kini mengalami krisis besar untuk menemukan air bersih.

“Kesulitan untuk mendapatkan air bersih di Yaman sudah ada di tahap kronis. Akibatnya jutaan anak Yaman berada dalam risiko tinggi kolera hingga infeksi bakteri mematikan. Belum lagi dengan fakta bahwa sejak konflik tahun 2015 lalu, lebih dari 85.000 jiwa anak-anak Yaman meninggal karena kasus malnutrisi,” tulis UNICEF dalam akun Twitternya. []

 

 

 

Bagikan