Kerelawanan yang Asah Rasa Kemanusiaan

Lewat aksi-aksi kemanusiaan, para relawan melihat langsung bagaimana perjuangan para penerima manfaat yang hidup dalam kesulitan. Hal ini menambah tajam nilai-nilai kemanusiaan yang mereka anut. Cerita-cerita itu didapat oleh Khayrul dan Amel, yang telah berkiprah di dunia kemanusiaan sejak 2017 lalu.

Kayrul Haq bersama logo baru ACT yang diluncurkan pada Senin (28/9) ini. (ACTNews)

ACTNews, REYHANLI, PADANG – Khayrul Haq tidak berpikir panjang ketika seorang kenalannya di Aksi Cepat Tanggap (ACT) Turki, mengajaknya untuk bergabung. Kebetulan saat itu bertepatan dengan kuliah perdananya di Turki pada September 2017. Kesempatan untuk membantu para penyintas konflik dari Suriah begitu ia tunggu.

“Ketika saya sampai di perbatasan Suriah, yakni kota Reyhanli, itu membuka pikiran saya karena bertemu dengan korban-korban konflik yaitu anak kecil. Anak-anak Suriah yang sudah tidak punya ayah dan ibu karena sudah terkena konflik, terkena bom, rudal di Suriah dulu. Dan mereka menyambut kita dengan senyuman yang lebar. Sangat ramah. Saya bersentuhan langsung, ngobrol sama mereka, sama orang tua asuh mereka, bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya di Suriah itu,” Khayrul mengulangi cerita pengalaman perdananya itu pada Ahad (27/9) lalu.

Cerita-cerita itulah yang kemudian menumbuhkan empati dan spiritual Khayrul. Tentang kesulitan, tentang anggota keluarga yang hilang, tentang konflik yang mengurung harapan mereka. Ia pun bersyukur tinggal di Indonesia yang notabene minim konflik, tidak seperti Suriah yang saat ini benar-benar lumpuh akibat konflik menahun.

“Karena mereka sudah tidak punya orang tua, mereka tidak punya materi dan segala macamnya. Tempat tinggalnya pun ketika saya kunjungi, saya melihat mereka tinggal di tenda yang beralaskan terpal dan mendapatkan kerja sangat susah karena mereka orang Suriah. Pun kalau ada kerja, mereka mendapatkan sekitar 30 – 40 lira dalam satu hari, yang kalau dirupiahkan sekitar Rp60 ribu. Dan itu tidak cukup untuk memberi makan kepada anak-anaknya. Sedangkan mereka punya anak 3-5, ada istrinya juga, dan itu benar-benar sangat susah,” lanjut Khayrul.


Oleh karenanya, Khayrul juga berharap bangsa Indonesia dapat terus menunjukkan kepeduliannya mengingat masih banyaknya bangsa dunia juga selain Suriah, yang mesti tinggal di pengungisan saat ini. “Jadi saya mengajak teman-teman, dan saya berharap dari bangsa Indonesia, yang merdeka dan sangat besar ini terus mengalir kebaikan dan kepedulian kepada saudara-saudara kita entah itu di Suriah, Palestina, Uighur atau wilayah-wilayah lainnya yang terkena korban konflik. Saya mengajak kita terus mengambil peran, dan terus berdoa tanpa batas untuk bisa bermanfaat untuk mereka dan kita menjadi negara yang bermanfaat untuk negara lainnya,” ajak Khayrul.

Apa yang dirasakan Khayrul, dirasakan juga oleh Amel, relawan yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sumatera Barat. Berawal dari tahun 2017, Amel sudah mengikuti banyak kegiatan kemanusiaan di MRI Jakarta Raya. Seperti Buka Bersama Jakarta Bahagia (BBJB) pada bulan Ramadan, hingga aksi-aksi solidaritas untuk Palestina.


Amel di tengah aksi solidaritas untuk Palestina. (ACTNews)

Ketika pulang ke Bumi Andalas, Amel terus melanjutkan perjuangannya dengan menjadi relawan di Kota Padang. “Pulang dari Jakarta ke Sumatera Barat, berkesempatan menjadi anggota Disaster Management Basic Training di Sumatera Utara. Kemudian 2019 yang enggak kalah seru, menjadi relawan zakat dan relawan Ramadan mengikuti kegiatan Kapal Ramadhan Mentawai, membawa pakai paket-paket pangan untuk untuk rekan-rekan tepian negeri dan tahun 2020 saat ini,” kisah Amel.

Ia pun sampai kini masih memegang nilai-nilai yang ia dapatkan selama bertugas menjadi relawan. “Kami Insyaallah masih konsisten, dan doakan semoga selalu istikamah membersamai masyarakat yang membutuhkan. Nilai-nilai yang terdapat selama menjadi relawan yaitu meningkatnya rasa empati merasakan apa yang orang lain rasakan, melihat bagaimana orang-orang prasejahtera memenuhi kehidupan mereka, dan masyarakat yang menjadi penyintas bencana. Tentunya nilai-nilai tersebut harus kita asah sebagai relawan kemanusiaan. Terima kasih banyak ACT, atas kesempatannya berikan saya ladang untuk beramal dan semoga terus Istiqomah dan konsisten salam tangguh, salam relawan, salam kemanusiaan,” ungkap Amel.

Nilai-nilai inilah yang hendak diperkuat dan terus dikembangkan ACT agar dampaknya dapat dirasakan bagi masyarakat luas. Pesan nilai-nilai tersebut juga hadir dalam logo baru ACT. “Logo baru ACT merupakan penerjemahan makna rahmatan lil ‘alamin atau rahmat bagi semesta alam, yang menjadi visi besar lembaga ke depan dan sesuai kondisi terkini, lebih modern, dan global. Logo tersebut merepresentasikan tekad kami untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga hingga penjuru dunia. Kami ingin identitas baru ini dapat menggambarkan ACT sebagai lembaga yang lebih inovatif, modern, dan nyata kehadirannya di seluruh dunia dalam menyelesaikan permasalahan kemanusiaan,” terang Ibnu Khajar selaku Presiden Aksi Cepat Tanggap dalam acara peluncuran logo baru ACT di Menara 165, Senin (28/9). []