Kerja Keras Mukri sebagai Petani demi Mimpi Sang Anak

"Saya mungkin enggak bisa menjadi sarjana, tapi Insyaallah anak-anak saya nanti bisa,” ujar warga Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo itu.

Mukri (47) petani asal Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. (ACTNews)

ACTNews, PONOROGO – Terlahir dari keluarga petani, Mukri (47) kecil memang terbiasa dengan pekerjaan mencangkul sawah dan menanam padi.

Sejak menamatkan pendidikan dasar, Mukri sudah mulai bertani. “Mungkin ini sudah jadi garis hidup saya, jadi saya nikmati sembari syukuri juga apa yang saya dapat," kata Mukri mengawali cerita kepada tim Global Wakaf-ACT pertengahan Februari lalu. 

Kalau boleh jujur, lanjut Mukri,  awalnya, ia tidak ingin menjadi petani. Mukri ingin melanjutkan pendidikan saja. Namun, keadaan ekonomi keluarga harus membuatnya rela melepas angan-angan. 

"Saya mungkin enggak bisa jadi sarjana, namun Insyaallah anak-anak saya nanti bisa,” yakin warga Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo itu.

Mukri sadar, pendidikan amat berharga bagi anak-anaknya. Meskipun dihimpit kondisi ekonomi yang sulit, ia tetap berusaha menyekolahkan anak bungsunya ke universitas. “Kami sebagai orang tua harus bertanggung jawab atas kemauan anak, apalagi kemauan dalam hal pendidikan. Kalau kita enggak mendukung, berarti kita zalim tha?” kata Mukri. 

Mukri membutuhkan Rp 12 juta untuk biaya kuliah anaknya per semester, ditambah lagi dengan kebutuhan rumah tangga kurang lebih Rp 1,5 juta. Sementara, pendapatan bersih Mukri sekali menggarap lahan seluas 2,5 atau 312 meter persegi hanyalah sebesar Rp 4 juta.


Mukri di depan kandang ternaknya. (ACTNews)

Mukri mencari cara lain untuk menambah pendapatan. Selain bergantung pada pendapatan hasil sawah, ia melakukan jual beli ternak. Ada kalanya, Mukri juga bekerja memburuh untuk petani lain demi kebutuhan sehari-hari.

“Untuk modal awal, saya dapat dari menjual ternak. Nanti setelah panen, saya beli ternak lagi untuk dipelihara. Setelah besar, saya jual lagi untuk modal selanjutnya,” tambah Mukri. Semua itu dilakukan Mukri agar tidk berutang pada pihak lain.


Bagi Mukri, selama kebutuhan belum terlalu mendesak, berutang bukan pilihan. Hasil kerja memburuh ia tabung untuk digabungkan dengan hasil panen. "Biar bisa bayar kuliah anak,” katanya penuh semangat.


Untuk membantu ikhtiar Mukri, Global Wakaf – ACT memberikan bantuan modal usaha melalui Wakaf Sawah Produktif. Apiko Joko Mulyono dari Tim Global Wakaf – ACT menerangkan, semangat Mukri menyekolahkan anak menjadi alasan Global Wakaf-ACT membersamainya. “Mudah-mudahan melalui Wakaf Sawah Produktif, pak Mukri bisa lebih baik mengelola lahan agar mendapat hasil yang maksimal untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya," jelas Apiko.[]