Kerja Keras Pemuda untuk Bangsa

Rasulullah selalu mengajarkan pemuda untuk bangkit dan bekerja keras. K.H. Mahfudz Syaubari mencontohkan, burung-burung pun bekerja keras untuk mencari makan. Mereka tidak hanya berdiam diri di sarang.

Kerja Keras Pemuda untuk Bangsa' photo
Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Mojokerto K.H. Mahfudz Syaubari. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari persatuan yang dilakukan para pemuda. Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Mojokerto K.H. Mahfudz Syaubari usai mengisi ceramah maulid Nabi Muhammad di Kantor Aksi Cepat Tanggap, Rabu (28/10), menjelaskan, persatuan telah membawa pemuda Indonesia ke berbagai persatuan. Selain Sumpah Pemuda, tahun 1937 umat Islam juga membentuk Majelis Islam A’la untuk mengkoordinasi menyatukan umat Islam menghadapi politik Belanda.

“Lalu tahun 1945 kita bisa (Indonesia) merdeka. Alhamdulillah mereka (pemuda Indonesia) bisa disatukan dengan ruh syahadah yang diajarkan Rasulullah,” kata Abuya K.H. Mahfudz Syaubari.

Rasulullah selalu mengajarkan pemuda untuk bangkit dan bekerja keras. K.H. Mahfudz Syaubari mencontohkan, burung-burung pun bekerja keras untuk mencari makan. Mereka tidak hanya berdiam diri di sarang.

Selain itu, Rasulullah mengajarkan kerja keras yang juga diikuti para sahabat dari kaum Anshar yang petani dan kaum Muhajirin yang pedagang. Keuntungan dagang itu dikembangkan dalam baitul mal. “Bukan hanya dikumpulkan, tetapi juga dikembangkan,” lanjutnya. Menurut K.H. Mahfudz, hal ini sangat penting dalam hal berbangsa, terlebih di tengah pandemi saat ini yang mana potensi kekurangan pangan bisa terjadi. Sebab itu, ACTdan Global Wakaf melakukan kolaborasi dengan Yayasan Pengembangan Pesantren Indonesia membentuk Gema Petani, Gerakan Produsen Pangan Indonesia.

Keadaan ini, menurut K.H. Mahfudz Syaubari, dapat menjadi momen mengajak generasi muda bergabung ke bidang pertanian. Sejauh ini pertanian kurang menarik bagi pemuda salah satunya disebabkan kesejahteraan petani yang minim.

Menurutnya, petani muda bisa mengembangkan pertanian dengan teknologi yang sudah canggih. Pertengahan Oktober lalu, Global Wakaf – ACT bersama Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) dan Gerakan Masyarakat Pesantren untuk Ketahanan Pangan Indonesia (Gema Petani), meneken kerja sama untuk penanaman lahan seluas 500 hektare. Penandatanganan ini dilakukan di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Kelurahan Ledok, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur.[]