Kesabaran dan Cara Nuril Mengajari Anak-Anak Al-Qur’an

Cara mengajar Al-Qur’an antara satu anak dengan anak yang lain berbeda, sesuai kemampuannya. Jika anak cepat menangkap pelajaran maka menggunakan cara biasa, jika anak lambat dalam menerimanya, maka menggunakan analogi-analogi benda dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mudah diingat.

nuril sedang mengajar
Nuril saat sedang mendampingi peserta didiknya mengaji. (ACTNews)

ACTNews, BOJONEGORO — Membuat anak-anak mencintai dan bisa membaca Al-Qur’an bukanlah perkara mudah. Perlu ketelatenan dan kesabaran dalam membimbingnya karena masa kanak-kanak adalah masa-masa bahagia dengan bermain, juga masa keemasan yang mudah untuk diarahkan. 

Bagi seorang ibu dan juga guru di Rumah Qur’an Bojonegoro Cinta Qur’an, Nuril Rochmatin, menjadi seorang guru yang mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an adalah kesempatan yang spesial. Pengalamannya menjadi seorang ibu membantu banyak pekerjaannya dalam membimbing anak-anak membaca Al-Qur’an. 

“Anak-anak itu bukan susah diatur, memang masa kanak-kanak adalah masa-masa bermain. Sebagai guru yang mengajar membaca Al-Qur’an, saya harus pintar-pintar mencari cara agar masa-masa kebahagiaan anak-anak tidak terampas, tetapi juga mereka mau belajar membaca Al-Qur’an dan akhirnya mencintai Al-Qur’an,” kata Nuril, Rabu (26/5/2021).

Nuril melanjutkan, hal paling penting dalam mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an adalah kesabaran. Daya tangkap anak-anak masih berkembang, wajar jika berbeda-beda kemampuannya dalam memahami bacaan. “Jangan lelah membimbing dan sabar. Jangan sampai anak-anak yang lambat memahami, selalu disalahkan atau dimarahi,” jelas ibu empat anak ini. 

Satu cara yang Nuril gunakan dalam mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an adalah membuat suasana mengaji riang dan penuh kegembiraan. Cara mengajari satu anak dengan anak yang lain berbeda, sesuai kemampuannya. Jika anak cepat menangkap pelajaran maka menggunakan cara biasa, jika anak lambat dalam menerimanya, maka menggunakan analogi-analogi benda dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mudah diingat.

Dalam sebulan, Nuril menerima gaji sebesar Rp400 ribu. Meski pas-pasan, Nuril tak mempermasalahkannya. Baginya mengajari Al-Qur’an adalah ibadah yang tak bisa dihitung dengan materi. Ia tambah bersyukur ketika Global Zakat-ACT menyerahkan bantuan biaya hidup sebagai apresiasi atas dedikasinya dalam mengajar ilmu agama.

“Gaji berapa pun alhamdulillah. Terima kasih Global Zakat-ACT atas bantuan biaya hidup yang diberikan. Semoga Program Sahabat Guru Indonesia dapat terus memberikan keberkahan untuk kita semua,” ungkapnya. []