Kesaksian Nuthayla Anwar atas Represi Warga Uighur di Cina

Nuthayla menuturkan, tatapan warga Uighur kosong. Mereka hidup di bawah tekanan serta rasa takut. Tiap sudut kota terpasang kamera serta petugas yang mengawasi. Tahun 2009 itu, warga Uighur mengalami tekanan dan semakin menjadi hingga sekarang.

Kesaksian Nuthayla Anwar atas Represi Warga Uighur di Cina' photo
Anak etnis Uighur sedang menghafal Alquran. Di tanah mereka sendiri di Xinjiang, Cina kehidupan mereka ditekan pemerintah setempat. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Sambil tersengal, Nuthayla Anwar membacakan puisinya. Ia membaca di depan puluhan orang dengan sangat menjiwai. Cerita tentang Uighur sangat jelas, kekerasan dan tekanan yang dialami warga keturunan Uighur di Xinjiang, Cina Nutlayla gambarkan dalam tiap susunan kata dalam puisinya. Berbekal pengalaman perjalanan ke Xinjiang, ia ungkapkan lewat sebuah karya yang menggetarkan jiwa.

Tahun 2009, suasana mencekam sejak keluar bandara Nuthayla rasakan saat berkunjung ke wilayah Provinsi Xinjiang, Cina. Penjagaan serta pertanyaan yang menyecar ditujukan ke Nuthayla oleh petugas keamanan setempat. “Pertanyaan yang ajukan pun cukup aneh,” kenang Nutlayla, Kamis (16/1) lalu.

Keluar bandara, sisa-sisa konflik masih dapat terlihat. Hari itu merupakan bulan Desember 2009 ketika Nuthayla datang di provinsi yang mayoritas dihuni muslim. Waktu itu bertepatan beberapa bulan selepas pecahnya konflik. Mobil terbakar serta bangunan yang mengalami kerusakan masih terlihat.

Nuthayla menuturkan, tatapan warga Uighur kosong. Mereka hidup di bawah tekanan serta rasa takut. Tiap sudut kota terpasang kamera serta petugas yang mengawasi. Tahun 2009 itu, warga Uighur mengalami tekanan dan semakin menjadi hingga sekarang.

“Saat itu (2009), jilbab masih diperbolehkan, tapi tetap dengan pengawasan ketat. Nama-nama orang Uighur juga dipaksa ganti dengan nama Cina, kegiatan ibadah umat Islam juga dibatasi dan diawasi ketat, padahal Xinjing merupakan wilayah dengan populasi umat Islam terbesar di Cina,” tuturnya.

Perempuan yang juga menjadikan perjalanannya ke Xinjiang itu menjadi novel Alazi Perawan Xinjiang mengatakan, bahwa tiap sendi kehidupan warga keturunan Uighur tertekan. Pendidikan mereka terbatas, kehidupan mereka di rumah masing-masing diawasi, identitas nama mereka diganti, dan yang terpenting ialah kegiatan beragama mereka yang dilarang.

Di tahun 2009 itu, Nutlayla secara sembunyi-sembunyi coba berbicara dengan warga Uighur. Bertempat di salah satu restoran halal, ia mendapati kepedihan hidup di sana. “Orang Uighur yang telah dewasa saat ini hanya mengkhawatirkan anak-cucu mereka, tak ada lagi yang mengenal Islam,” ungkapnya kepada ACTNews saat ditemui setelah diskusi tentang konflik di Uighur di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (16/1).

Kini, kabar baik masih urung datang dari tanah Xinjiang tempat warga Uighur tinggal. Mereka masih hidup dibawah kekangan. Nuthayla berharap, bangsa Indonesia untuk terus mendoakan warga Uighur agar tetap teguh mempertahankan agama. “Jika tak dapat memberikan bantuan secara tenaga ataupun benda, setidaknya doa terbaik kita untuk mereka (Uighur) dapat tersampaikan agar Islam tetap tegak di Provinsi Xinjiang,” harapnya.[] 

Bagikan