Kesederhanaan Menimba Ilmu ala Santri Miftahul Bayan

Kehangatan keluarga baru terasa di antara santri yang ada di Pesantren Miftahul Bayan. Bertahun-tahun mereka tinggal bersama dengan kesederhanaan serta keterbatasan pangan.

Kesederhanaan Menimba Ilmu ala Santri Miftahul Bayan' photo
Santri makan bersama di depan kobong Pesantren Miftahul Bayan, Pandeglang , Ahad (3/11). Hidangan dan tempat tinggal sederhana menjadi teman keseharian mereka. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, PANDEGLANG Berlatar belakang lahan persawahan dengan padi yang telah menguning, Ahad (3/11), ratusan santri di Pesantren Miftahul Bayan, Desa Kadupandak, Pincung, Pandeglang melakukan berbagai kegiatan. Ketika Aksi Cepat Tanggap berkunjung ke sana, mereka hendak makan sore. Dengan kompak, puluhan santri laki-laki menyiapkan berbagai keperluan secara mandiri.

Asap mengepul dari dapur pesantren. Kayu menjadi bahan bakar tungku masak mereka. Sore itu, lauk mereka hanyalah olahan jengkol serta nasi putih hangat. Walau sederhana, kebersamaan yang menjadi kunci mereka.

Epi, salah satu santri, mengatakan, pada umumnya pesantren tradisional salafiyah membiasakan para santrinya hidup dengan kesederhanaan. Apalagi di Pesantren Miftahul Bayan menggratiskan  biaya pendidikan satrinya. Para santri hanya dikenakan biaya listrik sebesar Rp 15 ribu per bulan.


Persediaan beras milik santri di Pesantren Miftahul Bayan, Pandeglang, Ahad (3/11). Para santri tak dipungut biaya pendidikan, mereka hanya diminta untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri walau menu tiap makan sangat sederhana. (ACTNews/Eko Ramdani)

“Santri di sini diajarkan mandiri, tak ada penatu juga juru masak dari pesantren. Semua kegiatan kami lakukan bersama-sama, mulai dari pangan sampai kebersihan. Urusan pangan, santri diberikan bekal dari orang tua. Sederhana saha, seperti beras serta mi instan. Sebagian besar kondisi ekonomi keluarga santri di sini menengah ke bawah,” ungkap Epi kepada ACT, Ahad (3/11).

Dari penuturan pengasuh Pesantren Miftahul Bayan Haji Mulyadi, jumlah santrinya mencapai 200 orang. Mereka datang dari berbagai lokasi, tak hanya Pandeglang. Berbagai tingkatan usia juga menetap di pesantren ini. Rata-rata mereka datang dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ratusan santri tersebut dididik oleh Mulyadi, dibantu tenaga pengajar tambahan yang datang dari alumni atau keluarga Mulyadi.

Akbar, salah satu santri asal Lampung, mengatakan, sudah satu tahun ini ia menjadi santri di Miftahul Bayan. Pamannya, yang juga alumni Miftahul Bayan, mengajak Akbar untuk menimba ilmu agama di pesantren yang tak jauh dari pusat kota Pandeglang itu. Akbar, yang juga lulusan  sekolah menengah atas di Lampung ini, ingin memahami agama lebih dalam.

“Sudah satu tahun ini saya mondok, sebulan sekali paling orang tua kasih kiriman uang untuk biaya hidup. Menimba ilmu di pesantren tradisional serderhana, tinggal pun di rumah bilik, makan juga seadanya. Apalagi di sini tidak dipungut biaya pendidikan, hanya bayar listrik. Itu juga kami (santri) juga yang menggunakan,” tutur Akbar.


Suasana makan bersama santri Miftahul Bayan, Pandeglang, Ahad (3/11). Nasi putih serta lauk sederhana menjadi teman makan santri selama ini. (ACTNews/Eko Ramdani)

Walau dengan kondisi seadanya, Epi, Akbar, dan ratusan santri lainnya menikmati selama mereka menimba ilmu di pesantren. Mereka telah merencanakan untuk menetap di pesantren setidaknya selama emapt tahun Hal ini karena rata-rata santri di sana menimba ilmu hingga tujuh tahun, bahkan lebih. “Paling enggak empat tahun ke depan saya di sini (pesantren),” tambah Akbar.

Hal yang sama juga dirasakan di berbagai pesantren yang tersebar di Indonesia. Keterbatasan fasilitas serta kesederhanaan pangan tak menjadi halangan santri menempuh pendidikan agama di pesantren. Mereka rela menabung rindu pada keluarga demi menikmati menimba ilmu di pesantren. []

Bagikan

Terpopuler