Kesederhanaan Pesantren Al-Hamdaniyyah yang Lahirkan Para Ulama

Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah di Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, telah melahirkan ulama-ulama besar sejak berdiri di tahun 1787. Tradisi zuhud para ulama terdahulu kemudian mereka pertahankan demi mengasah kemandirian para santri.

Salah satu bilik santri di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, SIDOARJO – Diyakini Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah telah berdiri sejak tahun 1787. Pondok Pesantren ini merupakan salah satu yang tertua yang ada di Jawa Timur. K.H. Hamdani di abad itu mendirikan pesantren sebagai sarana dakwah kepada masyarakat sekitarnya di Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

“Kalau dari cerita zaman dahulu, ada yang peminum, pemabuk, penjudi. Tapi sama kiai-kiai dihilangkan. Jadi sekarang alhamdulillah, masyarakat sudah baik. Semakin lama semakin berkurang, bahkan kalau sekarang mungkin sudah tidak ada,” ujar Ustaz Wahid salah seorang pengajar di pondok menceritakan sejarah Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah.

Dari tangan para pengasuh pondok pesantren ini jugalah lahir para mubalig-mubalig yang ternama. “Mungkin kalau sampeyan bertanya-tanya Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah, orang akan tanya lagi itu di mana? Tapi santrinya, alumninya, banyak yang menjadi orang besar. Salah satunya yang mahsyur, Kiai Hasyim Asyari dan Kiai Kholil Bangkalan,” ungkap Ustaz Wahid pada Senin (25/12/2021) silam.

Bilik milik Kiai Hasyim Asyari sampai saat ini masih ada. Sebuah ruangan sederhana dari kayu dan bambu yang kini dijadikan ruang tamu dan pertemuan. Sebuah simbol bahwa dari tempat sederhana, lahir seorang ulama yang besar. Kesederhanaan itu jugalah yang sampai saat ini dijaga para santri. Bangunan-bangunan dari Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah banyak yang tak berubah. Seperti asrama santri laki-laki yang berbentuk serupa.


Bilik tempat KH Hasyim Asyari pernah menimba ilmu. Tempat tersebut kini digunakan untuk tamu dan ruang pertemuan. (ACTNews/Reza Mardhani)

Sebanyak 200 santri menetap dan belajar ilmu agama dan kemandirian di pondok tersebut. Para santri umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah dan hanya dibebankan biaya pondok sebesar Rp 50 ribu rupiah per bulan. Untuk kebutuhan pangan sebulan, santri mengumpulkan iuran secara sukarela mulai dari Rp 50 ribu - Rp 100 ribu. Namun, iuran ini tidak diwajibkan bagi santri yang tengah berkekurangan.

“Memang lingkungannya yang mengajarkan sederhana, saya merasakan juga sendiri. Lek ngarani di sini mempertahankan kesalafannya. Kalau di sini masak ya masak sendiri, kemudian roan-roan (kerja bakti), jadi kemandiriannya bisa tertanam,” cerita Ustaz Wahid.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri sempat beberapa kali memberikan bantuan kepada para santri di Pondok Pesantren Al-Hamdaniyyah. Salah satunya yakni bantuan pangan melalui Beras Wakaf. “Kalau ACT saya tidak terlalu asing. Sering kasih beras, kasih bantuan. Apalagi beras, kan di sini para santri memasak makanannya sendiri. Memang butuh, dan selain beras banyak lagi kebutuhan para santri,” ujar Ustaz Wahid.


Beberapa waktu belakangan, penguatan pangan pesantren juga menjadi perhatian khusus dari ACT. Salah satunya Global Wakaf - ACT bersama Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) sempat mengadakan safari ke sejumlah pesantren di Pulau Madura pada Kamis (22/1/2021). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyosialisasikan beberapa agenda kolaborasi kedua lembaga ini. Salah satunya penguatan peran pesantren dalam menciptakan kedaulatan pangan.

Muhammad Yusuf Misbah atau Gus Yusuf selaku Sekretaris YP3I  pun mengajak masyarakat untuk turut serta menggerakkan sinergi dengan pesantren-pesantren ini. Menurutnya ada ratusan ribu santri yang siap bergerak untuk menuju peradaban bangsa dan dunia yang lebih baik.

“Itulah makanya, para dermawan untuk menyukseksan gerakan ini perlu kedermawanan anda semuanya. Ayo salurkan untuk gerakan-gerakan ini melalui Global Wakaf – ACT menuju kedaulatan. Insyaallah jika pangan kita berdaulat, ternak kita berdaulat, ekonomi kita berdaulat, negeri kita ini akan menjadi negeri yang makmur, baik, dan sejahtera,” pungkas Gus Yusuf. []