Kesedihan Marbut Melalui Ramadan 2020 yang Sepi

Kondisi Ramadan 2020 membuat marbut sedih. Masjid ditutup, tak ada tarawih, buka bersama, ataupun itikaf. Akibatnya biaya untuk operasional masjid juga terganggu.

Jemaah sedang beribadah di Nurul Rahman, Mampang Prapatan.
Warga sedang beribadah di Masjid Nurul Rahman, Mampang Prapatan. Akibat pandemi, aktivitas ibadah Ramadan di masjid ditiadakan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA — Suasana masjid saat Ramadan 2020 jauh dari keramaian. Masjid-masjid ditutup dan pemerintah mengimbau warga beribadah dari rumah, bekerja dari rumah, dan sekolah dari rumah. Hanya kumandang azan dan lantunan ayat suci Al-Qur’ran sang marbut yang menandakan aktivitas masjid masih ada.

Suasana itu membuat salah seorang marbut Masjid Nurul Rahman, di Pela Mampang, Mampang Prapatan, Heru sedih. Sebagai seorang yang saban hari memakmurkan masjid, ia menyaksikan tak ada warga yang berbondong-bondong menunaikan salat tarawih, buka bersama, atau itikaf. “Sedih banget ya kondisi seperti ini,” kata Heru. 

Menjelang akhir Ramadan, Masjid Nurul Rahman membuka penyaluran zakat, infak, dan sedekah. Nahas, sedikit pula yang membayar zakat. Padahal, Heru menceritakan, 10 hari terakhir sudah banyak orang yang membayar zakat.

Tak hanya Heru, marbut yang lain, Supardi juga menceritakan kondisi yang sama. Menurut Supardi, masjid sepi membuat pemasukan untuk operasional masjid juga kosong. Akibatnya gaji untuk dirinya juga terdampak.

Heru dan Supardi adalah dua orang marbut yang menerima beras zakat fitrah dari Global Zakat-ACT pada Ramadan 2020 lalu. Pemberian zakat fitrah ini merupakan bantuan untuk marbut yang juga terdampak Covid-19. Ramadan tahun ini, aksi pendistribusian beras zakat fitrah akan kembali dilakukan, utamanya bagi mereka yang kesusahan.[]