Kesejahteraan Guru Honorer Masih jadi PR Bersama

Pada peringatan hari guru kali ini, isu kesejahteraan guru masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Selain pemangku kepentingan, kesejahteraan guru juga bisa diikhtiarkan oleh umat untuk umat.

hari guru 2021
Usman, seorang guru honorer di Desa Belat, Kecamatan Belat, Kabupaten Karimun, saat sedang mengajar. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA, KARIMUN, PASAMAN BARAT – Dalam peringatan Hari Guru Nasional 2021, permasalah kesejahteraan guru honorer masih menjadi perhatian. Di banyak daerah, para guru honorer harus memikirkan cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Usman, seorang guru honorer di Desa Belat, Kecamatan Belat, Kabupaten Karimun menerima gaji Rp700 ribu per bulan. Akibat pandemi Covid-19, gajinya dipotong menjadi Rp600 ribu. 

“Kita terima (pemotongan). Untuk kemaslahatan bersama, agar pandemi di Indonesia segera bisa diatasi,” kata Usman saat ditemui tim ACT Batam, Jumat (19/11/2021).

Berbeda dengan Usman, Devi Indra guru honorer di Desa Kapar, Kecamatan Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat harus mencari penghasilan tambahan dengan menjual ketupat dan kerupuk. 


“Gaji mengajar Rp350 ribu per bulan. Untuk menambah biaya hidup keluarga, saya membuka usaha ketupat dan kerupuk dengan penghasilan Rp 300 ribu,” jelas ibu dua anak ini saat ditemui tim ACT Pasaman Barat, Sabtu (20/11/2021). 

Risky Andriani dari Global Zakat-ACT yang bertanggung jawab pada Program Sahabat Dai Indonesia menyampaikan, Hari Guru Nasional selain diperingati sebagai apresiasi untuk para pendidik, seharusnya juga disikapi sebagai momen mengheningkan cipta.

“Merenung sejenak, ternyata, dalam kesempatan peringatan Hari Guru Nasional 2021, banyak guru honorer yang belum mencapai derajat kesejahteraan. Padahal, mereka sudah sekian lama berperan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.

Menurut Risky, kesejahteraan guru bukan hanya pekerjaan pemerintah. Umat bisa ikut berperan. Global Zakat-ACT melalui program Sahabat Guru Indonesia berikhtiar meningkatkan dan mengapresiasi guru honorer di berbagai daerah.

Program yang sudah dijalankan sejak November 2019 ini menyampaikan amanah muzaki kepada guru prasejahtera dalam bentuk beaguru.

Tantangan para guru dalam mendidik di era ini pun diakui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim. Dalam sambutan Upacara Peringatan Hari Guru Nasional 2021, Nadim mengatakan, di masa pandemi Covid-19, kinerja guru mengalami tantangan yang luar biasa. 

"Guru di seluruh Indonesia menangis melihat murid mereka semakin hari semakin bosan, kesepian, dan kehilangan disiplin. Tidak hanya tekanan psikologis karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), banyak guru mengalami tekanan ekonomi untuk memperjuangkan keluarga mereka agar bisa makan," kata Nadiem, Kamis (25/11/2021).

Selanjutnya Nadiem menjelaskan banyak yang harus diperbaiki dalam sistem pendidikan di Indonesia. guru bisa mengajar dengan baik, penyederhanaan kurikulum, serta kesejahteraan ekonomi para guru. 

"Guru se-Indonesia menginginkan kesempatan yang adil untuk mencapai kesejahteraan yang manusiawi," jelasnya.[]