Kesempatan Berbagi Tak Mengenal Batas Diri

Masyarakat Relawan Indonesia memiliki anggota dengan latar belakang beragam. Setiap orang bisa dengan kekuatan tekad dapat bergabung, tidak terkecuali Fuad Nur Hasan dan Linggo.

Kesempatan Berbagi Tak Mengenal Batas Diri' photo
Fuad Nur Hasan (kedua kanan) berfoto dengan Ketua Dewan Pembina Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) dalam kuliah visi relawan di Malang, Ahad (27/10/2019). (ACTNews)

ACTNews, MALANG, KEBUMEN – Ada salah seorang relawan istimewa dari Kota Malang. Fuad Nur Hasan namanya. Masih muda, seorang pelajar tingkat akhir SMA. Kisah Fuad bergabung dengan Masyarakat Relawan Indonesia cukup unik. Fuad adalah anak dengan kebutuhan khusus tunadaksa. Saat itu, Aksi Cepat Tanggap Malang dan MRI Malang berkunjung ke yayasan yang membina anak-anak difabel tempat Fuad tergabung.

“Saya bergabung dengan MRI saat Ramadan 2018. Saat itu sedang berlangsung roadshow Syekh Gohana dari Palestina,” cerita Fuad tahun lalu. Kala itu, ACTNews mengenal Fuad saat bertugas meliput kegiatan ACT di Kota Malang.

Fuad kemudian ditawari bergabung ke MRI. Ia pun langsung menyambut baik tawaran itu. Ia ingin membantu anak-anak Indonesia yang menjadi korban bencana juga membantu anak-anak Palestina dan Suriah. Ia lantas mengikuti kegiatan MRI mulai dari mengumpulkan donasi di hari bebas kendaraan Kota Malang (car free day), persiapan bantuan untuk korban gempa Lombok, Dapur Qurban Malang, hingga implementasi air bersih untuk mengatasi kekeringan di Malang, serta berbagai program MRI lainnya.

Fuad mengaku, keadaan kesehatannya sama sekali tidak menghalangi niatnya berderma sebagai relawan. Sebagai pemuda, ia ingin menyalurkan semangatnya untuk menolong sesama. Ia pun berharap anak-anak muda seusianya dapat bersama-sama berperan di dunia kerelawanan. “Dahulu pahlawan, kalau sekarang relawan,” akunya bangga. 

Relawan istimewa juga hadir di Kebumen. Ia adalah Linggo, yang bertemu ACTNews Januari lalu. Linggo adalah penyandang difabel karena penyakit saraf. Kakinya tidak bisa berjalan sebagaimana sebelumnya. Tetapi aktivitasnya tetap. Ia bekerja sebagai desainer grafis di sebuah percetakan serta menjadi relawan dari MRI Kebumen.

Berbagai aktivitas kemanusiaan masih dijalankan Linggo. Misalnya, membantu administrasi pembangunan beberapa Sumur Wakaf di Kebumen, membantu implementasi bantuan pengobatan bagi pasien prasejahtera program Mobile Social Rescue. Sebelum sakit, Linggo juga kerap terlibat dengan tanggap darurat bencana.

“Salah satunya ketika longsor di Desa Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, pada 2018 lalu. Saya ikut selama dua minggu di sana, mengevakuasi para korban dan melayani membantu pengungsi juga bersama Tim SAR,” ujar Linggo kala itu.

Fuad dan Linggi adalah dua relawan yang tak menjadikan batas diri sebagai halangan membantu sesama. Bagi mereka, segala bentuk kebaikan harus terus dijalankan selagi diri masih mampu.[]