Kesempatan Bertemu Ramadan adalah Kemuliaan

Diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadan adalah kemuliaan. Maka hendaknya memaksimalkan pertemuan ini dengan ibadah-ibadah, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah bersama para sahabat.

Memaksimalkan waktu dengan banyak beribadah selama Ramadan adalah tuntunan yang diberikan dari Rasulullah SAW. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Kesempatan bagi seorang hamba masih diberikan umur menjelang Ramadan ini adalah tanda dari Allah. Maka di kesempatan ini hendaknya orang-orang yang diberikan kesempatan tersebut memaksimalkan ibadahnya. Demikian yang dijelaskan Habib Ali Zaenal Abidin Alkaff dalam Kajian Peradaban pada Kamis (8/4/2021) lalu.

“Maka jangan pernah menganggap diri kita biasa karena diri kita adalah orang mulia yang Allah inginkan kebaikan kepada kita. Allah masih memberikan usia, itu sesungguhnya Allah meminta kepada kita dengan umur yang dipenuhi dengan keberkahan tersebut untuk senantiasa meminta ampun kepada Allah SWT,” ujar Habib Ali.

Menurutnya, cinta dan kasih Allah sangat besar pada bulan Ramadan ini, maka ia mengajak manusia untuk tak menyia-nyiakannya. Hal ini jugalah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya ketika memasuki bulan Ramadan. Takwa mereka menjadi lebih besar daripada bulan sebelumnya.


“Justru di bulan Ramadan mereka perang di Perang Badar. Mereka juga berusaha mengeluarkan harta yang lebih banyak. Mereka berusaha untuk beribadah kepada Allah. Di malam hari mereka qiyamul lail. Di siang hari mereka berpuasa. Rasulullah adalah manusia yang sangat dermawan di sebuah hadis yang sahih, bahkan lebih dermawan di bulan Ramadan,” terang Habib Ali.

Habib Ali menjelaskan juga empat ibadah yang hendaknya dimaksimalkan pada Ramadan ini, sebagaimana dilakukan Rasulullah dan para sahabat. Pertama yang pasti berpuasa di siang hari, kemudian beritikaf di malam hari, lalu mengajak orang lain iftar bersama, dan senantiasa dermawan kepada sesama.

Hal ini yang coba dipraktikkan juga oleh Habib Ali, dalam hal berbagi. Ia menutup kajiannya dengan menceritakan kembali kisahnya ketika sedang mengenyam ilmu di Yaman. Kala itu ia dan teman-temannya yang lain belum memiliki apa pun.

“Kami enggak punya apa-apa. Tapi minuman atau kurma yang kami punya kami berikan kepada sahabat. Padahal sama saja, enggak ada beda. Tapi kita ingin mendapatkan pahala menjadi orang yang memberikan iftar kepada orang lain. Karena kesempatan tidak datang dua kali. Siapa tahu ini Ramadan terakhir kita. Mudah-mudahan istikamah sahabat-sahabat saya,” pesan Habib Ali. []