Kesigapan MRI dalam Penanggulangan Longsor di Bogor

Puluhan anggota Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) - ACT berjibaku di wilayah terdampak longsor di Kabupaten Bogor sejak awal kejadian. Mereka mengerahkan segenap tenaga untuk membantu sesama.

Kesigapan MRI dalam Penanggulangan Longsor di Bogor' photo
Tim MRI - ACT membantu kendaraan yang melintasi titik longsor di Desa Sukaraksa, Cigudeg, Bogor. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada awal tahun 2020 lalu berdampak signifikan bagi sebagian warga Jabodetabek. Banjir besar dan luas mengepung Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Sedangkan di Bogor dan Lebak diterjang banjir bandang serta tanah longsor yang menutup akses jalan. Ribuan warga menjadi korban bencana alam ini.

Berkolaborasi dengan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), Aksi Cepat Tanggap (ACT) bergegas ke lokasi-lokasi terdampak bencana sejak hari pertama. Salah satunya ialah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat yang dilanda tanah longsor di banyak titik. Selain itu, ACT juga mendirikan posko kebencanaan serta dapur umum di beberapa titik.

Hakim, salah satu relawan tanggap daruratMRI yang bertugas di wilayah Cigudeg hingga Kecamatan Sukajaya yang sempat terisolir mengatakan, saat hari-hari awal pascabencana, kondisi lingkungan tempat terdampak longsor sangat sepi. Jalan utama tak bisa dilalui karena tertutup longsoran besar. Belum lagi matinya aliran listik membuat malam sangat gelap di tempat bencana.

“Ini (listrik) juga baru nyala lagi. Sebelumnya listrik mati karena jaringannya putus terkena longsor,” ungkapnya Ahad (5/1) lalu.

Tim MRI - ACT tak hanya bertugas untuk mendistribusikan bantuan, tapi juga ikut membantu warga yang hendak melawati longsoran. Longsor yang ada di Desa Sukaraksa, Cigudeg misalnya. Pada pekan pertama setelah terjadi bencana longsor, tim relawan berjibaku dengan lumpur tebal untuk membantu pengendara yang hendak lewat, baik untuk mencari keluarganya atau mendistribusikan bantuan.

“Waktu jalan sudah mulai bisa dilewati pun permasalahan belum selesai. Akses jalan sempit, sedangkan pengguna jalan yang banyak membuat warga harus bergantian melintas,” tambah Hakim.


Relawan ACT bersama tim SAR Gabungan menyisir titik-titik yang diduga menjadi tempat hilangnya korban longsor di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Sukajaya, Bogor. Hingga hari ketujuh pascabencana, tiga orang masih dinyatakan hilang. (ACTNews/Eko Ramdani)

Selain ikut berjibaku membantu pengendara melintasi lokasi longsor, relawan ACT juga ada yang ditugaskan untuk bergabung bersama tim pencarian dan pertolongan gabungan. Di sana, mereka melakukan pencarian terhadap tiga orang yang masih dinyatakan hilang di Kampung Sinar Harapan, Desa Harkat Jaya, Sukajaya.

Choirul Sani, relawan MRI dari Jawa Tengah yang ditugaskan ikut pencarian di Sinar Harapan, mengatakan, tim relawan serta tim evakuasi lainnya di sini harus bersahabat dengan lumpur yang tebal. Perbukitan yang longsor membawa material tanah menguruk apa pun yang berada di bawahnya. Selain itu kewaspadaan juga selalu dijaga untuk tetap aman selama menjalankan tugas.

“Hujan yang terus mengguyur menjadi kendala tersendiri. Tanah juga masih labil dan berpotensi longsor susulan yang bisa membahayakan tim SAR,” tutur Sani, Senin (6/1).

Hingga kini, relawan ACT masih terus melakukan pendampingan ke warga terdampak bencana di Kabupaten Bogor. Selain masih menyiagakan tim tanggap darurat, ACT juga terus melakukan pendistribusian kebutuhan pangan serta kebutuhan lainnya untuk pengungsi.[]


Bagikan