Kesulitan Ekonomi Tak Buat Ustaz Cece Berhenti Mengajar Ngaji

Di tengah kesibukannya mencari nafkah untuk memenuhi ekonomi keluarga, Ustaz Cece tidak pernah meliburkan pengajian anak-anak di rumahnya. Baginya pengajian tidak bisa ditinggalkan karena alasan ekonomi.

ustaz cece sukabumi
Ustaz Cece saat mengajar mengaji. (ACTNews)

ACTNews, SUKABUMI – Cece Supriatna konsisten membimbing dan mengajar ngaji kepada anak-anak Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Baginya mengajar mengaji adalah keharusan yang tidak bisa ditinggalkan karena alasan ekonomi.  

Selain mengajar mengaji, Sebagai kepala rumah tangga, Ustaz berjualan pisang coklat dari satu sekolah ke sekolah lain. Pekerjaan itu telah ia lakukan sejak 2007. Namun, sejak kegiatan belajar mengajar dilakukan daring, usaha Ustaz Cece bangkrut. 

“Tinggal gerobaknya yang masih tersisa. Modalnya habis karena setahun lebih sekolah tutup. DUlu, sehari paling besar dapat omzet Rp150 ribu,” kata Ustaz Cece kepada tim ACT Sukabumi, Ahad (24/10/2021). 

Tak mau menyerah, Ustaz Cece berusaha mencari penghasilan lain agar tetap bisa menghidupi keluarganya. Akhirnya Ustaz Cece bekerja sebagai buruh bangunan. Pemasukan yang didapat dari menjadi buruh tidak menentu, karena tidak setiap hari ada pekerjaan pembangunan.

“Upah berkisar  Rp80 ribu sampai Rp120 ribu perhari. Memang kurang kalau untuk biaya hidup, namun tetap disyukuri berapapun rezeki yang didapat. Paling penting semua sehat,” ujar bapak dua anak ini.

Di tengah kesibukannya mencari nafkah, Ustaz Cece tidak pernah meliburkan pengajian anak-anak di rumahnya. Menurutnya, kegiatan pengajian tidak mengganggu karena dilakukan selepas isya.

Melihat perjuangan dan semangat dalam mengajar ngaji anak-anak.  ACT melalui Gerakan Sejahterakan Dai Indonesia memberikan bantuan biaya hidup, Ahad (24/10/021). Gerakan ini merupakan inisiasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membantu para dai.[]