Ketakutan Yanti dari Tsunami

Ketakutan Yanti dari Tsunami

ACTNews, PALU - Siang itu, Selasa (2/10) Yanti sedang duduk di bawah pohon rindang. Teduh, tenang seperti tak ada keramaian di sekelilingnya. Namun, Yanti tidak sedang berada di dalam kebun yang sepi, atau duduk bersantai di tanah lapang seorang diri. Tampak jelas di sekeliling Yanti, bangunan rusak hingga rata dengan tanah menjadi latar belakang tempat perempuan paruh baya itu duduk. Yanti sedang berada tepat di atas rumahnya yang tak berbentuk lagi, habis disapu tsunami. 

Sambil meratapi nasib keluarga dan tetangganya, ia bercerita kepada Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT), tentang bagaimana kuatnya gempa dan gelombang tsunami yang menghilangkan ribuan nyawa itu.

Berkali-kali tangan kanannya menunjuk ke arah tempat ia berjuang menyelamatkan diri dari maut. Sedangkan tangan kirinya pun berulang-ulang menyeka air yang keluar dari mata dengan kerudung lusuh yang ia pakai, tanda kesedihan. Dengan suara terisak, Yanti terus bercerita. Sementara tak jauh dari Yanti, Tim Emergency Response ACT sedang menyisir korban meninggal yang belum sempat terevakuasi di sepanjang pesisir Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Kisah Yanti dimulai dari Jumat (28/9) kemarin. Petang menjelang malam di hari itu membawa kekalutan, ketakutan, dan kegetiran yang teramat dalam pada diri Yanti.

Bumi sudah dirasa bergetar oleh Yanti dan masyarakat sekitar Donggala dan Palu sejak beberapa jam sebelum gempa utama. Sekitar pukul 15.00 WITA, gempa-gempa dengan magnitudo sedang, saling susul menyusul. Data yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, gempa yang dirasa Yanti dan warga lainnya bermagnitudo lebih dari 5. Hingga akhirnya bumi bergoncang makin besar tepat pukul 18.02 WITA membuat Yanti tak kuat membayangkan rasa takut yang ia alami. Gempa 7,4 SR memicu tsunami tepat di depan matanya. 

Dengan suara yang kuat, Yanti meneriaki mertuanya yang ada di dekatnya. Umur ibunya sudah sepuh, tapi Yanti paksa lari untuk menyelamatkan diri. Gemuruh air laut terdengar menyeramkan bagi Yanti yang baru pertama kali itu merasakannya. “Nenek berkali-kali jatuh,” tutur Yanti.

Malam bencana itu gelap, tak ada penerangan sedikitpun. Listrik padam akibat kerasnya gempa dan sapuan tsunami. Tak ada lilin atau lampu dari mesin diesel yang dapat membangkitkan listrik. Hanya kepanikan yang menjadi pemandangan. Yanti berkata, ia lari bersama mertuanya menuju bukit yang tak jauh dari rumah.

Grukkk.. gruukkk.. grukk.. seperti itu bunyinya,” coba Yanti menjelaskan gemuruh tsunami yang masyarakat lokal menyebutnya air laut berdiri.

Yanti gagal selamat dari terjangan tsunami bersama mertuanya. Ia sekarang hanya berdua dengan anak keduanya, mertuanya tak tahu di mana keberadaannya. Anak pertama Yanti di Palu, hingga kini pun belum ada kabar.

Sementara anak kedua Yanti ketika tsunami menyentuh bibir pantai Loli Saluran, sedang bersama neneknya dan terpisah. Sedangkan kakak Yanti juga hingga kini hilang, belum ditemukan keberadaannya, tersapu air laut saat kembali ke rumahnya padahal sudah diperingatkan bahwa ada air naik.

“Sudah saya teriak ke kakak, kalau air naik. Tapi dia malah kembali ke rumah untuk mematikan sakelar listrik,” ujarnya.

Bercerita tentang mertuanya yang entah ada di mana sekarang, Yanti makin berkaca-kaca. Ia mengingat betul, berkali-kali mertuanya jatuh karena tak kuat kakinya termakan usia. Yanti telah berusaha mengajaknya berlari dengan menggenggam tangannya. Sayang, ia tak lagi kuat menyelamatkan diri untuk terus mencapai tanah yang lebih tinggi terdekat. “Tak kuat juga saya menggendongnya,” ucap Yanti sambil menghapus air mata.

Sampai Yanti berada di atas bukit yang ia jadikan untuk menyelamatkan diri. Dengan susah-payah, Yanti merangkak ke puncaknya. Sendiri Yanti, terpisah dari keluarganya yang entah di mana.

“Saya baru bertemu anak kedua saya di bukit itu jam sembilan malam di hari Jumat yang gelap gulita itu, Anak saya sedang mengungsi. Alhamdulillah selamat,” kata Yanti.

Kini, Yanti benar-benar sedang merasakan kehilangan saudara terkasih. Harta pun ikut lenyap seiring dengan gempa yang menggoyang dan tsunami yang menerjang, meruntuhkan seketika rumah tempat ia tinggal. Tak ada lagi kehangatan keluarga yang selama ini dirasakan. Donggala sekarang tak seindah dulu dengan pantai dan laut yang berujung di Teluk Palu. Donggala dan Palu telah luluh lantak, ribuan jiwa meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang tertimbun rumah atau dihempas tsunami. []