Ketangguhan Enung Hidupi Keluarga di Masa Pandemi

Ujian ekonomi tengah dirasakan Enung, warga Kota Tasikmalaya. Di tengah ikhtiarnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pandemi hadir dan membawa dampak pada usahanya.

act tasikmalaya
Enung saat dagangannya diborong Global Wakaf-ACT. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA Berbagai macam pekerjaan sudah Enung (49) lakoni. Mulai menjadi pekerja di pabrik hingga buruh harian ia jalani demi memenuhi kebutuhan keluarga. Wanita tangguh nan inspiratif asal Tawang, Kota Tasikmalaya ini sudah empat tahun berjuang sendirian sejak suaminya meninggal dunia.

Saat ini, Enung menghidupi dua orang anak yang masih menjadi tanggungannya. Bahkan sebelumnya, Enung juga merawat kedua orang tua yang sudah sepuh dan sakit. Di kondisi saat itu, ia memutuskan berjualan nasi kuning agar tetap bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan itu kemudian ia teruskan hingga sekarang.

Namun, ujian hidup Enung tak kunjung berhenti. Saat pandemi, aktivitas berdagangnya turut terdampak. Nasi kuning yang ia jajakan turun drastis penjualannya. Biasanya, ia mampu menjual hingga lima kilogram nasi, tapi sekarang hanya sekitar dua kilogram saja. “Masak dua kilo nasi kuning saja kadang enggak habis. Tapi kalau enggak habis begitu saya bagikan ke tetangga, atau tukang becak yang lewat,” ungkapnya, Senin (6/9/2021).

Mengapresiasi perjuangan ekonomi Enung, Global Wakaf-ACT di awal September ini memborong seluruh dagangan Enung. Senang menjadi ekspresi yang jelas terlihat dari wajahnya. Ia pun bersemangat membungkus satu per satu porsi jualannya, apalagi ia tahu kalau hidangan yang ia masak bakal Global Wakaf-ACT distribusikan ke warga prasejahtera secara gratis.

“Aksi borong dagangan ini tak sekadar menghabiskan dagangan pelaku UMKM yang terdampak pandemi. Akan tetapi, aksi yang dimotori kedermawanan masyarakat ini juga berlanjut dengan pendistribusian barang dagangan untuk warga yang membutuhkan,” jelas Fauzi Ridwan dari tim Program Global Wakaf-ACT Tasikmalaya.[]