Keteguhan Masitoh yang Enggan Berutang ke Rentenir

Lapak dagangan sepi dan ekonomi sulit, Masitoh kekeh untuk tidak berutang ke rentenir. Hal ini dilakukannya karena takut bunga yang tak kunjung habis.

wakaf modal usaha act
Masitoh saat tengah berjualan di lapaknya. (ACTNews)

ACTNews, GARUT – Masitoh, penjual pakaian anak di Pasar Wisata Samarang, Garut, sudah bertahun-tahun ikut ambil bagian menopang ekonomi keluarga. Ia menyewa lapak di lantai bawah karena tak sanggup menyewa lapak di lantai atas yang mencapai Rp1 juta per bulan. Masitoh harus menerima lapaknya berada di sekitar pedagang-pedagang daging dan ikan. 

"Terkadang ada saja pembeli yang komentar ‘kok jual pakaian di lantai bawah, baju-bajunya nanti jadi bau," kata Masitoh, Selasa (12/4/2022).  

Meski keadaan ekonomi keluarga pas-pasan, Masitoh tetap ingin bekerja dan berdagang. Ia ingin mendapatkan hasil untuk memberi makan keluarga dari sumber dana yang halal dan berkah. 

"Penghasilan harian cuma dapat 50 ribu hingga 60 ribu per hari. Kadang enggak nutup buat kebutuhan keluarga sama modal dagang selanjutnya," jelas Masitoh. 

Karena lokasi lapak Masitoh ada bersama lapak daging dan ikan, membuat lapaknya tak jarang sepi dari pengunjung yang sekadar untuk melihat-lihat apalagi membeli. Meski sulit, Masitoh sangat enggan berutang untuk modal kepada rentenir.

"Saya enggak mau minjem ke rentenir atau bank emok, Bunganya enggak habis-habis," ucapnya. 

Pasar Wisata Samarang di Garut tergolong pasar yang ramai akan pengunjung setiap harinya. Namun keramaian pengunjung belum bisa dinikmati oleh Masitoh.[]