Keterbatasan Fisik Tak Halangi Jenul Berinovasi

Semenjak terkena musibah sengatan listrik saat bekerja, Jenul (33) terpaksa kehilangan sebelah tangannya. Hal tersebut tidak membuat ia menyerah. Jenul membuka sebuah warung kelontong dan penyewaan wifi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Warung kelontong dan penyewaan wifi di rumah Jenul. (ACTNews)

ACTNews, SERANG – Suatu kali Jenul (33) tengah memasang atap. Nahas, tangan kirinya terkena setruman listrik. Semenjak itu ia terpaksa kehilangan tangannya. 

Alih-alih terpuruk, Jenul masih tangguh dan tak putus asa. Keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk terus berusaha mencukupi kebutuhan hingga menyenangkan hati warga di lingkungan sekitarnya.

Bermodalkan relasi dari teman-teman tongkrongan dan uang sebesar Rp300 ribu, Jenul memulai usaha warung kelontong. Rumah Jenul yang terletak di akses utama menuju kampung membuat cukup strategis dimanfaatkannya untuk membuka warung kelontong.

Jenul pun menyulap warungnya menjadi tempat penyewaan wifi. Ketika sekolah-sekolah mulai melaksanakan pembelajaran secara daring, banyak anak sekolah di sekitar rumahnya yang kesulitan mendapatkan akses internet. Ia pun melihat peluang usaha dalam kondisi itu.


Anak-anak pelanggan wi-fi di warung Jenul. (ACTNews)

Rushan Novaly dari ttim Global Wakaf-ACT menerangkan, Jenul terus berinovasi dalam mengembangkan warung kecilnya. Ide kreatif tak pernah berhenti muncul dari pikirannya. Saat ini, Jenul sedang berusaha untuk menjual minuman es. Tak menutup kemungkinan, Jenul akan mengembangkan warungnya dengan variasi dagangan lain.

“Kini banyak anak-anak yang datang ke warungnya untuk menyewa wifi untuk bersekolah. Bagi Jenul, selain mendapat pemasukan, ia bisa berperan membantu anak-anak mendapatkan akses internet untuk bersekolah,” cerita Rushan.


Oleh karena itu, Jenul membutuhkan peralatan dan perlengkapan pendukung serta tambahan modal untuk warung kecilnya. Global Wakaf – ACT mendukung ikhtiar Jenul melalui Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia.

“Dari Kang Jenul, kita belajar bahwa dengan keterbatasan dan musibah yang menimpa tidak menjadi penghambat untuk terus menjalani hidup. Semangat Jenul menjadi inspirasi kita memperbanyak rasa syukur serta tidak mudah berkeluh-kesah atas segala keterbatasan yang kita miliki,” tutup Rushan.[]