Keterbatasan Tak Halangi Siswa Alor Menangkan Olimpiade Nasional

MIS Timuabang di Alor tidak memiliki perpustakaan dengan buku bacaan yang melimpah. Namun, kondisi ini tak menjadi hambatan bagi para siswa di sana untuk mengukir prestasi di tingkat nasional.

Keterbatasan Tak Halangi Siswa Alor Menangkan Olimpiade Nasional' photo

ACTNews, JAKARTA  Para siswa Madrasah Ibtidaiyah Swasta Timuabang, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur telah beberapa kali mengukir prestasi akademis di tingkat nasional. Namun, fakta ini tak jadi jaminan sekolah tersebut memiliki fasilitas mumpuni untuk mendukung muridnya belajar. Malah sebaliknya, anak-anak Timuabang menyabet olimpiade sains tingkat nasional di tengah berbagai keterbatasan.

Perintis sekaligus Kepala Sekolah MIS Timuabang Kadir menuturkan, sudah beberapa kali muridnya memenangi olimpiade tingkat nasional. Yang terbaru ialah salah satu muridnya memenangi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional atau O2SN. Bahkan, tambah Kadir, sebelumnya MIS Timuabang juga mengirimkan wakil untuk mengukuti olimpiade sains dan merebut juara tiga.

“Mereka (murid) belajar dengan berbagai keterbatasan alat peraga, buku dan fasilitas sekolah lainnya. Walau begitu tak menjadi halangan untuk kami mengukir prestasi, bahkan di tingkat nasional,” ungkap Kadir saat diajak mengunjungi beberapa ikon Jakarta bersama Aksi Cepat Tanggap, Jumat (26/4).


Ketika ditanya bagaimana cara para siswanya belajar, Kadir hanya menjawab murid-muridnya mempelajari berbagai hal dari bahan seadanya. Didampingi guru yang gigih memberikan pemahaman, murid-murid itu disiapkan untuk menjadi juara. “Kami belajar dari bahan yang ada saja, bahkan dari Majalah Bobo,” kata Kadir.

Di tahun ke delapan ini, MIS Timuabang masih dalam kondisi serba kekurangan. Walau telah memiliki ruang kelas sendiri yang dibangun ACT pada 2014 silam, mereka masih belum punya sejumlah fasilitas pendukung belajar dan mengajar. Misalnya saja, sekolah tersebut belum memiliki alat peraga pendidikan dan buku bacaan serta ajar yangkurang memadai,.

Tak patah asa

Pertemuan dengan ACT sekitar lima tahun silam seakan membawa angin segar bagi pendidikan di Timuabang. Perkenalan yang berawal dari postingan Facebook tentang kondisi MIS Timuabang mengatarkan ACT mendarat di Alor dan membangun gedung untuk mendukung pendidikan di sana.

Pendampingan pendidikan Timuabang dari ACT tak berhenti setelah bangunan gedung selesai, akan tetapi terus berlanjut hingga sekarang. Murid MIS Timuabang yang memiliki prestasi akademis serta semangat tinggi untuk belajar diterbangkan ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke tempat yang lebih baik. Kini, setidaknya 41 anak dari tiga angkatan masih mengenyam pendidikan di Jawa, tepatnya Bojonegoro dan Jakarta.

Apiko Joko Mulyono dari tim Global Zakat-ACT mengatakan pada pertengahan Juli lalu, puluhan anak yang berkesempatan belajar di Jawa ini nantinya akan pulang kampung setelah mereka lulus. Mereka akan menjadi penerus dan pembangun pendidikan di Timuabang dan Alor pada umumnya agar lebih baik.

“Saat ini kita seakan menabung untuk masa depan. Dalam beberapa tahun ke depan, hasil pendidikan di Jawa akan mengubah kondisi sumber daya manusia di Alor. Maka dari itu, harapan besar bagi mereka yang telah lulus sekolah di Jawa akan kembali ke tanah lahirnya untuk mengubah masyarakatnya menjadi lebih baik,” jelasnya. []

Bagikan