Keterpurukan Pelaku Usaha Mikro Dihantam Pandemi dan Bencana Alam

Pelaku usaha mikro di sejumlah besar wilayah mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi. Di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan, pelaku usaha mikro tak hanya terdampak pandemi, namun juga bencana alam.

Warung rusak akibat gempa
Warung milik Ayu, pedangang makanan siap saji yang terletak di sebelah Posko Induk Kemanusiaan ACT di Mamuju. Perabotan warung tersebut banyak yang rusak akibat guncangan gempa. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU Pedagang skala kecil yang menjajakan dagangannya memenuhi kiri-kanan jalan poros penghubung Kabupaten Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat. Mereka adalah warga sekitar yang mengais nafkah dari berdagang. Jualan mereka rata-rata hasil kebun seperti nanas, jagung, ubi, sayur-mayur dan durian jika sedang musimnya, serta toko kelontong. Pembeli utama ialah pengguna jalan yang kebetulan melintas di jalan itu.

Jalur poros tersebut merupakan jalur utama Trans-Sulawesi yang menghubungkan Makassar hingga Manado dan melintasi Mamuju serta Majene. Nurdina, salah satu pedagang yang di tepi jalan poros mengatakan, pembelinya rata-rata ialah supir atau pengguna jalan yang beristirahat. Hasil yang didapat terhitung mampu untuk menghidupi keluarganya. Nurdina mengaku dalam sehari bisa mengantongi untung kotor sampai Rp500 ribu.

“Hasilnya ya alhamdulillah bisa buat bantu ekonomi keluarga dan sekolahkan anak. Malah lebih besar hasil dari warung daripada kebun suami,” jelas Nurdina, yang bersuamikan seorang petani yang menanam cokelat dan jagung, Ahad (31/1/2021).

Akan tetapi, jayanya hasil warung Nurdina terakhir dirasakan sekitar bulan Maret 2020 lalu atau beberapa saat sebelum pandemi Covid-19 dinyatakan masuk ke Indonesia. Ketika pandemi datang dan adanya pembatasan sosial berskala besar turut mempengaruhi penghasilan Nurdina. Pengguna jalan berkurang drastis, begitu juga warga sekitar warung Nurdina yang tak berani keluar rumah. Akan tetapi, ia tak pantang menyerah, Nurdina tetap berjualan walau sepi pembeli.

Masuk Januari 2021, nyaris satu tahun pendapatan Nurdina jatuh lebih dari 50 persen. Selama pandemi, dapat penghasilan kotor Rp100 ribu saja terbilang besar bagi Nurdina. Varian barang dagangannya pun tak semeriah sebelumnya. Hal ini karena modal jualan malah digunakan untuk menutupi kebutuhan hidup.

“Belum selesai pandemi, gempa datang pertengahan Januari yang makin buat sepi pembeli,” tutur Nurdina.

Senasib dengan Nurdina, Ainah (62), seorang pedagang kecil asal Jalan Keruwing Indah, Kalimantan Selatan juga merasakan dampak yang besar dengan adanya pandemi dan bencana alam. Janda satu anak ini sehari-hari menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil berjualan gorengan di warung kecil ang ia sewa. Sayang, kecelakaan memaksa Ainah tak bekerja selama dua pekan yang membawa pengaruh besar pada ekonomi keluarga. Ia tak mampu membayar sewa warung kecilnya dan mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi.

Sejak tak lagi menyewa warung, Ainah melanjutkan berjulannya dari rumah dengan menitipkan barang dagangan ke warung-warung. Akan tetapi, di saat usahanya belum stabil akibat kecelakaan dan dampak pandemi, banjir besar melanda Kalimantan Selatan. Rumahnya terendam banjir hingga akses jalan tak dapat dilalui. Selama 14 hari sejak bencana Ainah berhenti total dari aktivitas ekonomi. Ia tak mendapatkan uang sama sekali.

“Selama tidak jualan, saya mengandalkan uang yang tersisa dari jualan sama tabungan yang jumlahnya juga tak besar,” ungkapnya, Jumat (12/2/2021).

Pemberian modal

Global Wakaf-ACT sebagai lembaga pengelola dana wakaf mengambil peran besar dalam proses pemulihan pascabencana di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan. Sejak beberapa pekan lalu, selepas masa tanggap darurat, Global Wakaf memulai berbagai program, salah satunya ialah pendampingan ekonomi dengan pemberian modal usaha bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana.

Proses asesmen, pemberian modal hingga pendampingan dilakukan dengan target ribuan pelaku usaha termodali agar ekonomi tanah bencana memulai geliatnya demi membangun kembali kehidupan pascabencana. Raka Ginanjaya Gumelar dari tim Global Wakaf mengatakan, di wilayah bencana, kondisi usaha kecil dan mikro begitu memprihatinkan. Sebelum bencana, pendapatan mereka telah anjlok akibat pandemi yang telah setahun melanda. Kini, gempa bumi dan banjir besar datang dan menyisakan beban yang perlu diselesaikan oleh pelaku usaha.

“Pelaku usaha yang terdampak bencana rata-rata menjadikan pemasukan dari dagangan kecil mereka sebagai tumpuan kehidupan keluarga. Saat ini mereka tak bisa berbuat banyak karena modal mereka nyaris habis akibat pandemi dan bencana alam,” jelas Raka, Senin (15/2/2021).[]