Ketika Banjir Bandang Hanyutkan Usaha Yuli

Rumah Yuli rusak berat pascabanjir bandang yang menerjang Malang beberapa waktu lalu. Banjir juga menghanyutkan warung serta peralatan usaha Yuli.

banjir malang
Sisa etalase milik Yuli yang ikut rusak akibat bencana. (ACTNews)

ACTNews, KOTA MALANG – Gemuruh dari sungai disertai berita warga tentang banjir bandang, membuat Yuli segera ambil langkah seribu. Lekas setelah memastikan sang suami yang sedang sakit strok diselamatkan oleh anak-anaknya, ia menyelamatkan diri bersama warga lain.

“Jadi saya tidak memikirkan rumah saya, saya lari dan naik ke (pengungsian) Senaputra,” ujar warga Jaksa Agung Suprapto Gang III, Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang ini ditemui di posko pengungsian pada Sabtu (6/11/2021) lalu.

Yuli merasa sesak ketika menengok lingkungan yang ia tinggali setelah musibah itu. Rumah rusak berat, berbagai peralatan yang ia gunakan untuk menjalankan usaha toko kelontong dan berjualan sayur pun turut hancur.


Rumah Yuli rusak dan berbagai perabotannya habis tersapu oleh banjir yang terjadi pada Kamis (4/11/2021) lalu. (ACTNews)

“Kalau kondisi rumah saya dari jendela itu hancur, kemudian barang itu bersih semua. Termasuk etalase, kulkas, kompor, sama tabung gas. Pokoknya semua dagangan itu habis semua,” cerita Yuli.

Ia kerap sedih ketika memikirkan keluarga yang saat ini ia nafkahi. Kesedihan itu bertambah mengingat tanggung jawabnya sebagai Ketua RT, dan melihat 74 warga yang ia kepalai menderita kondisi yang sama.

“Saya datang ke posko ini dua hari enggak enak makan. Saya memikirkan suami sakit, anak-anak, dan warga. Tapi saya coba tersenyum, saya yakin Allah Maha Kaya dan punya rencana lain,” ungkap ibu dari empat orang anak ini.

Keinginan Yuli Kembali Bangun Usaha

Usaha yang dijalani Yuli, merupakan binaan Global Wakaf-ACT melalui program Wakaf UMKM. Sebelumnya menurut Yuli, satu hari ia bisa menghasilkan omzet sampai Rp500 ribu. Sementara usaha tersebut terhenti karena bencana yang ia alami.


Ia tentu merasa sedih dan kecewa melihat usaha yang ia rintis hancur bersama rumahnya. Bagaimana pun, ia mengaku ikhlas. “Kembali lagi kepada Allah. Karena harta itu bukan milik kita, ya sudah. Memang kalau Allah berkehendak seperti itu, bisa apa kita? Jadi saya akan berbesar hati, dan tidak akan menunjukkan kesedihan kepada warga. Supaya mereka tidak bersedih,” ucap Yuli.

Meskipun sedih dan kecewa, Yuli tak menyerah. Ia berharap setelah bencana ini berlalu, ia bisa membangun usaha kembali. “Harapan saya bisa merintis lagi, bisa usaha lagi, karena saya punya tanggungan banyak. Di samping keluarga, saya juga menjaga amanah warga saya. Jadi saya berharap bisa bangkit kembali seperti semula agar bisa memberikan yang terbaik untuk warga,” harap Yuli. []