Khidmat Salat Jumat Pengungsi Rohingya di Pengungsian

Pekan kedua berada di pengungsian, pengungsi Rohingya menjalankan salat Jumat di ruang serbaguna bersama sebagian relawan dipimpin khatib dan imam dari pengurus pesantren Misbahul Ulum.

Khidmat Salat Jumat Pengungsi Rohingya di Pengungsian' photo
Laki-laki dewaa pengungsi Rohingya bersiap menjalani salat Jumat di ruang serbaguna kamp pengungsi di gedung miilik Imigrasi Lhokseumawe. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, LHOKSEUMAWE – Azan belum berkumandang, namun jemaah yang semua laki-laki itu mulai memadati ruang serbaguna dan mengatur saf. Mereka pengungsi Rohingya yang akan melaksanakan salat Jumat.

Sadam Husin, pengurus dan pengajar Pesantren Misbahul Ulum Blang Mangat langsung maju usai azan dikumandangkan salah satu jemaah. Ia berkhutbah dalam bahasa Indonesia campur Melayu. Isi khutbah Jumat itu soal bersyukur dan menerima kehendak Allah dengan ikhlas. Sadam juga menceritakan kisah nabi Ayub AS.

"Nabi Ayub tetap bersyukur ketika diuji kekayaannya diambil oleh Allah. Beliau malah bersyukur 'alhamdulillah pernah dititipkan kekayaan', begitu," khutbah Said. Sebagian besar pengungsi Rohingya tampak menyimak dalam khidmat, sebagian lagi menampilkan mimik wajah menerka-nerka.

Sadam Husin dan sejumlah santrinya diminta salah satu lembaga kemanusiaan untuk memimpin salat Jumat (3/6). Sebelumnya, pesantren tempat ia mengajar belum pernah melakukan interaksi dengan pengungsi Rohingya selama mereka ada di pengungsian. Sadam mengaku, ia menerima dengan tangan terbuka apabila ada lembaga kemanusiaan lain yang menggandeng pesantren dalam kerja sosial pendampingan keagamaan, seperti mengajarkan anak-anak Rohingya hafalan Alquran atau kegiatan ibadah lainnya.


Pengungsi Rohingya menjalani salat Jumat di pengungsian. (ACTNews/Gina Mardani)

"Tentu sangat senang ya kalau diajak seperti ini (memimpin salat Jumat). Namun, disesuaikan juga dengan kondisi kegiatan pesantren," akunya. Salat Jumat hari itu juga diikuti sejumlah relawan dan pewarta yang kala itu sedang meliput.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Utara Muhadaruddin menerangkan, relawan MRI juga turut mendampingi keagamaan pengungsi anak Rohingya dengan bimbingan hafalan Alquran maupun surat pendek. Kegiatan itu dilakukan dalam pendampingan psikososial yang dilakukan hampir setiap hari.

"Insyaallah kita juga akan dampingi pengungsi dalam kegiatan ibadah lainnya, seperti salat Jumat pekan berikutnya. Berkoordinasi dengan lembaga yang ada," kata Muhadaruddin.[]


Bagikan