Khobz Hangat Kembali Penuhi Pangan Pengungsi Suriah di Idlib

Roti (khobz) dari para dermawan Indonesia menunjang kesediaan pangan pengungsi Suriah di Idlib. Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan langsung khobz hangat dari pabrik ke pengungsi dan korban konflik yang tinggal di Idlib.

Khobz Hangat Kembali Penuhi Pangan Pengungsi Suriah di Idlib' photo
Anak-anak di Idlib menerima bantuan pangan berupa khobz. Kerawanan pangan dan kemiskinan membuat keluarga-keluarga di Idlib tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. (ACTNews)

ACTNews, IDLIB – Perjuangan penyintas perang di Suriah belum usai. Sejumlah keluarga bahkan masih harus berperang melawan lapar. Tidak adanya asupan makanan juga membuat anak-anak rentan terkena penyakit.

Firdaus Guritno dari rim Global Humanity Responses (GHR) - ACT melaporkan, di Idlib, keluarga-keluarga menghadapi dilema pemenuhan pangan keluarga atau pun sekolah anak-anak. Turut mengatasi masalah ini, ACT kembali mendistribusikan pangan berupa roti pipih (khobz) kepada pengungsi Suriah di Idlib.

“ACT kembali menyalurkan kebaikan para dermawan melalui bantuan pangan khobz di akhir Oktober lalu,” kata Firdaus. Distribusi khobz dilakukan pada Rabu (30/10) dan Kamis (31/11) lalu. Sebanyak 8.000 jiwa menjadi penerima manfaat bantuan makanan pokok penduduk Suriah ini.

“Melalui bantuan pangan ini, orang tua bisa mengalokasikan keuangan mereka untuk kesempatan bersekolah anak-anaknya. Setidaknya, dalam beberapa pekan ini mereka tidak perlu lagi mengeluarkan tambahan untuk kelengkapan pangan,” tambah Firdaus.


Anak-anak di Idlib mengambil bantuan khobz dari pusat distribusi khboz Aksi Cepat Tanggap. (ACTNews)

Lebih lanjut, ia menerangkan, sasaran pendistribusian khobz kali ini berfokus pada keluarga-keluarga yang memiliki anak usia bersekolah. Firdaus berharap, dengan adanya bantuan makanan, keluarga-keluarga di Idlib tidak khawatir dengan asupan makanan anak-anaknya, terlebih saat kegiatan belajar-mengajar di sekolah mulai aktif.

“Paket roti yang dibagikan kepada anak-anak di sekolah kemudian dibawa ke rumah untuk disantap bersama keluarga. Sebagai sesama manusia, para penyintas ini harus terus kita bantu,” lanjut Firdaus.

Ketahanan pangan Suriah sejak medio 2018 terus memburuk. Delapan tahun sudah para penyintas harus mengungsi di tempat yang aman. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, sekitar 6,5 juta penduduk Suriah diestimasi membutuhkan makanan dan mata pencarian. Setidaknya, 2,5 juta orang dalam risiko kerawanan pangan.

Banyaknya pengangguran dan meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok membuat keluarga-keluarga di Suriah membeli makanan yang jauh lebih murah. Mereka mengurangi konsumsi makan sehari-hari atau mengirim anak-anak mereka yang bersekolah untuk bekerja. []

Bagikan