Kisah Dai di Tengah Pandemi

Peran dai saat pandemi sangatlah penting Padahal ekonomi para dai juga terdampak.

dai saat pandemi
Ustaz Ngadino, dai di Kabupaten Bantul, saat mengajar anak-anak mengaji. (ACTNews)

ACTNews, SUKABUMI – Peran dai saat pandemi sangatlah penting Padahal ekonomi para dai juga terdampak. Fakta ini seperti menafikan peran dai yang sangat penting. 

Salah satu dai terdampak pandemi adalah ustaz Cece Supriatna. Sebelum pandemi Covid-19, guru mengaji di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi ini biasa berjualan mainan anak di sekolah. Akibat kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka ditiadakan, Ustaz Cece tidak bisa berjualan. 

“Biasa buka lapak mainan di sekolah. Sekarang lagi vakum, sekolah belum masuk, pasar malam juga tidak ada,”  kata Ustaz Cece kepada tim ACT Sukabumi saat ditemui di rumahnya, Selasa (21/9/2021). 

Selagi tak bisa berjualan, Ustaz Cece menjadi kuli serabutan. Pekerjaan halal apapun ia lakukan, mulai dari kuli bangunan hingga buruh tani. “Yang penting keluarga bisa makan,” ujarnya. Meski ekonominya sedang sulit, kegiatan mengajar mengaji tetap ia lakukan. 

Sama halnya dengan Ustaz Cece, ekonomi Ustaz Robi Fahrurozi juga terdampak pandemi Covid-19. Pendapatan pria yang biasa mengajar mengaji di Kampung Ciloa, Desa Limbangan, Kecamatan Sukaraja ini menurun sejak lima bulan setelah Covid-19 melanda Indonesia. 

“Jualan sayur genjer ke tengkulak sayuran di pasar dengan harga per ikat Rp700. Karena pandemi harga turun jadi Rp600 dan (tengkulak) tidak setiap hari mau ambil,” ucapnya. 

Berbeda dengan Cece dan Robi, pandemi berimbas pada jumlah santri yang belajar mengaji ke Ustaz Ngadino (68) di Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul. Orang tua wali khawatir jika anak-anak mereka bisa terpapar Covid-19. 


Pengajar rumah tahfiz Al-qur'an di Tanah Datar nyambi menjadi pencari kayu bakar. (ACTNews)

“Mungkin orang tua khawatir anak-anaknya terkena Covid-19” jelas Ustaz Ngadino. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, Ustaz Ngadino mengandalkan infaq seikhlasnya dari para santri.

Untuk meringankan beban para dai terdampak pandemi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meluncurkan Gerakan Nasional Sejahterakan Dai Indonesia. ACT sebagai lembaga kemanusiaan profesional, turut serta mendukung gerakan tersebut dengan memberikan bantuan untuk 1.000 dai di tahap awal.[]