Kisah Guru Arlan, dari Pesimis hingga Menjadi Kebanggan

Arlan sempat pesimistis gelar sarjana guru Penjaskesnya tidak berguna. Namun saat ilmunya sangat dibutuhkan dan bisa bermanfaat bagi pendidikan di kampungnya, Arlan bersyukur meski masih digaji dengan jumlah tidak seberapa.

guru honorer arlan
Arlan (kanan) saat berbincang dengan tim ACT Luwuk Banggai. (ACTNews)

ACTNews, BANGGAI – “Pak Arlan, enggak mau ngajar di SD? Siswa di sekolah selama ini enggak pernah praktik Penjaskes karena tidak ada guru yang bisa. Siswa hanya belajar teori, padahal siswa suka sekali belajar di luar ruangan," kata salah seorang guru SD Inpres Koyoan kepada Arlan Abiwa yang masih menjadi mahasiswa, tujuh tahun lalu. 

Sebagai mahasiswa pendidikan program Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), Arlan Abiwa tergerak mengajar sebagai guru Penjaskes usai mendengar cerita tersebut. Ia merasa memiliki peluang untuk menyampaikan ilmu di perkuliahan kepada anak-anak di kampung halamannya, Desa Koyoan, Kecamatan Nambo, Kabupaten Banggai. 

“Dulu saya ragu, apakah ilmu yang saya pelajari bisa bermanfaat. Saya pikir, Penjaskes itu ilmu yang bisa dimengerti banyak orang tanpa belajar,” kata Arlan, Senin (18/10/2021).

Saat pertama kali mengajarkan praktik Penjaskes, Arlan meminta siswa agar melakukan pemanasan untuk menghindari cidera. Di luar dugaan, siswa tidak mengerti apa itu pemanasan.

“Mereka tanya, pemanasan itu apa? Caranya bagaimana? Saya tanya balik, apa kalian (siswa) tidak pernah pemanasan sebelum olahraga? Ternyata tidak,” jelas pria yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Luwuk Banggai ini. 

Kesabarannya menjadi guru Penjaskes membuahkan hasil. Tahun 2019 Anak didik Arlan berhasil menjadi juara 2 dalam ajang gerak jalan tingkat provinsi Sulawesi Tengah. Bahkan Arlan semakin terharu kala warga Desa Koyoan rela patungan membuat acara penyambutan.

“Sata tidak menyangka, siswa berhasil menyisihkan tim dari sekolah-sekolah yang lebih maju. Rasa lelah saya dan anak-anak terbayar dengan prestasi ini,” pungkas Arlan. Meski gaji yang diterima tidak seberapa, Arlan mengaku mencintai pekerjaannya sebagai guru honorer Penjaskes.[]