Kisah Guru Prasejahtera di Garut yang Menjadi Tumpuan Muridnya

Fasilitas sekolah hanya sederhana. Namun, para guru di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda menjadi tumpuan penyemangat murid-muridnya.

Kisah Guru Prasejahtera di Garut yang Menjadi Tumpuan Muridnya' photo
Murid dan guru MI Nurul Huda di Garut. Sekolah sederhana jadi tempat kegiatan belajar dan mengajar mereka. (ACTNews)

ACTNews, GARUT - Bangunan dengan dinding kayu menjadi tempat murid-murid di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda belajar. Sekolah ini bertempat di Kampung Cimahi, Desa Cimahi, Caringin, Kabupaten Garut. Fasilitas sekolah serba sederhana. Namun, semangat belajar tetap dipupuk agar anak murid dapat meraih cita-citanya.

Siti Aljariah merupakan salah satu guru yang mengajar di MI Nurul Huda. Dua tahun sudah ia mengabdikan dirinya untuk menjadi guru di sekolah sederhana ini. Sebelumnya ia mengajar di sekolah yang jauh lebih baik kondisinya di Bandung. Akan tetapi, panggilan hatinya membuat Siti kembali ke kampung halamannya untuk mengajar di MI Nurul Huda dengan fasilitas sederhana.

“Gaji ratusan ribu, itu pun enggak tiap bulan cair, enggak jarang dirapel. Tapi enggak masalah, saya senang mengajar di kampung saya sendiri,” ungkap Siti, Rabu (4/3).

Hal serupa diungkapkan Aldo. Umurnya baru menginjak 23 tahun. Ia merupakan alumni MI Nurul Huda yang kini memilih jalan mengabdi untuk sekolah masa kecilnya ini. Ingin anak-anak di kampungnya mendapatkan akses pendidikan yang baik menjadi alasan Aldo mengajar. Kondisi bangunan sekolah tak menjadi alasan untuk Aldo berhenti mengajar.

Siti dan Aldo merupakan guru-guru yang mengajar di MI Nurul Huda, Desa Cimahi. Status pegawai mereka yang hanya honorer dengan gaji rendah tak menyurutkan asa untuk menjadikan muridnya lebih baik dalam bidang pendidikan.


Kondisi kelas MI Nurul Huda, Garut. Sekolah sederhana ini jadi tempat menimba ilmu puluhan muridnya. (ACTNews)

Global Zakat-ACT pada Rabu (4/3) kemarin berkesempatan bertemu dengan pejuang pendidikan di Garut ini. Sambutan baik datang. Melalui program Sahabat Guru Indonesia, Global Zakat di hari itu menyerahkan bantuan biaya hidup bagi empat guru MI Nurul Huda.

Adi Nurdiansyah dari Tim Program ACT Jawa Barat mengatakan, program Sahabat Guru Indonesia hingga saat ini terus menyapa guru di pelosok-pelosok negeri, termasuk di Garut. Apresiasi ini hadir khususnya bagi guru bergaji rendah dan kondisi ekonominya masih prasejahtera.

“Program Sahabat Guru Indonesia juga menjadi cara Global Zakat untuk menyemangati guru hmprasejahtera agar terus mengawal pendidikan Indonesia agar lebih baik,” jelas Adi.

Sejak diluncurkan pada 25 November 2019 lalu, hingga kini program Sahabat Guru Indonesia telah menjangkau guru di 526 sekolah yang tersebar di 133 kota/kabupaten. Jumlah guru yang mendapatkan biaya hidup jumlahnya kini nyaris 2 ribu guru. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan implementasi program yang terus berjalan di berbagai daerah.[]


Bagikan