Kisah Hidup Ustaz Sairin Membimbing Sesama Mualaf

“Perjuangan beliau tidaklah mudah. Menjadi seorang mualaf lalu mendirikan musala, mencari biaya pembangunan, terus belajar agama hingga menjadi guru (ustaz) dan sekarang jumlah muslim semakin banyak dan musala terus dihidupkan. Patut dicontoh,” kata Rama Fardiansyah dari tim program ACT Purwokerto.

Sahabat Dai Indonesia
Ustaz Sairin saat menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, BANYUMAS – Ustaz Sairin kini berdakwah di Desa Banjar Panepen, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Ia menceritakan, muslim di desa tersebut adalah minoritas namun hidup penuh dukungan tetangga yang beragama lain, bahkan dalam membangun musala, umat musim dibantu oleh para tetangga yang berbeda keyakinan.

Menurut Ustaz Sairin, juga seorang mualaf, pada 2007 jumlah muslim di daerahnya hanya 15 KK. Sebagai seorang mualaf ia ingin muslim memiliki tempat ibadah untuk berkumpul dan belajar bersama. 

“Akhirnya minta izin kepada warga dan tokoh masyarakat yang non muslim untuk musala. Alhamdulillah mereka mengizinkan. Setelah dapat izin, saya bingung dana pembangunnya dari mana? Akhirnya warga patungan, termasuk dibantu oleh masyarakat yang nonmuslim,” kata Ustaz Sairin, Selasa (10/8/2021).

 

Setelah berdiri, lanjut Sairin, dirinya bingung terkait siapa yang akan pimpin ibadah dan mengajar ngaji di musala itu? Karena semua muslim di tempatnya adalah  mualaf yang belum mengerti Islam secara mendalam. 

“Saya dengan rekan yang lain mencari ustaz ke pesantren-pesantren, banyak yang tidak percaya ada musala di tengah-tengah masyarakat non muslim. Sampai akhirnya ada yang mau Ustaz Asep datang ke sini, dan heran ternyata benar ada musala di lingkungan warga non muslim. Akhirnya beliau yang mengajar ngaji anak-anak dan muslim di sini, saya ikut bantu-bantu saja,” jelasnya. 

Rama Fardiansyah dari tim program ACT Purwokerto mengatakan, Ustaz Sairin adalah salah satu tokoh muslim di Desa tersebut. Karena perjuangan beliau, kini sudah banyak orang di desanya yang memeluk agama Islam. 

“Perjuangan beliau tidaklah mudah. Menjadi seorang mualaf lalu mendirikan musala, mencari biaya pembangunan, terus belajar agama hingga menjadi guru (ustaz) dan sekarang jumlah muslim semakin banyak dan musala terus dihidupkan. Patut dicontoh,” kata Rama,  usai menyerahkan bantuan biaya hidup kepada Ustaz Sairin, Selasa itu.[]