Kisah Kurban dari Pulau Buru

Pulau Buru menjadi salah satu lokasi distribusi daging kurban Global Qurban tahun 2019 lalu. Kondisi masyarakat yang masih prasejahtera dan jauh dari keramaian kota menjadi alasan pulau yang ada di Maluku itu mendapat daging kurban.

Distribusi daging kurban dari Global Qurban untuk masyarakat Pulau Buru tahun 2019 lalu. (ACTNews)

ACTNews, BURU – Sejarah bangsa kental terasa di Pulau Buru, Maluku. Pemandangan indah juga tersaji di sana. Para penduduknya mayoritas bermata pencaharian di perkebunan, pertanian, serta perikanan. Ketika tim Global Qurban - ACT datang ke Buru Agustus 2019 lalu, harmoni kehidupan begitu kental antara penduduk asli serta para pendatang yang menetap di Buru sejak puluhan tahun silam.

Kehadiran Global Qurban - ACT di Buru saat itu untuk mendistribusikan daging kurban ke masyarakat di sana. Sasarannya ialah warga prasejahtera. Muhammad Yasin, Kepala Desa Namsina, Kecamatan Waplau, yang menjadi salah satu titik distribusi, menuturkan, daging kurban sangatlah berarti bagi warga Desa Namsina. Pasalnya, warga jarang mengonsumsi daging dengan alasan kemampuan ekonomi yang masih rendah. “Pertanian di sini kan berdasarkan musim, kalau hujan ya bertani. Kalau laut baik ya masyarakat menjadi nelayan,” ungkap Yasin, saat pendistribusian hewan kurban pada Iduladha 2019 lalu.

Desa Namsina sendiri menjadi salah satu titik pendistribusian. Eratnya kekeluargaan warga di sana terlihat ketika proses penyembelihan hewan kurban. Selepas salat Iduladha, warga bergegas ke tanah lapang tempat penyembelihan. Gotong royong warga, mempercepat pencacahan daging untuk kemudian segera didistribusikan.

Koordinator Program Global Qurban - ACT untuk wilayah Buru Yadi Frans mengatakan, di hari pertama Hari Raya Iduladha, Global Qurban menyembelih 25 ekor sapi untuk masyarakat Pulau Buru. Sapi-sapi tersebut merupakan milik pekurban yang disalurkan melalui Global Qurban. “Hari pertama Iduladha 2019, kami mulai pemotongan dari Desa Namsina untuk wilayah Pulau Buru. Penerima manfaatnya warga prasejahtera yang mereka bekerja sebagai petani, penyuling minyak kayu putih, serta nelayan,” jelas Yadi.

Global Qurban sebagai lembaga penyalur hewan kurban ini tiap tahunnya secara rutin mengirimkan kurban masyarakat ke wilayah-wilayah tepian negeri, Pulau Buru salah satunya. Ekonomi masyarakat yang masih prasejahtera serta terisolirnya mereka dari perkotaan menjadi alasan pengiriman daging terbaik. “Pulau Buru merupakan contoh warga tepian negeri yang mungkin hanya bisa menikmati daging satu tahun sekali saat Hari Raya Kurban saja, keadaan ekonomi menjadi alasan utamanya,” tambah Yadi Frans.

Pulau Buru merupakan satu dari sekian lokasi implementasi kebaikan dari masyarakat melalui Global Qurban. Di Iduladha tahun 2020 ini, selain menyasar masyarakat yang sedang terdampak pandemi serta bencana alam, Global Qurban juga akan tetap mengirimkan hewan kurbannya ke pelosok negeri.[]