Kisah Mia, Satu dari Jutaan Pegawai yang Di-PHK Akibat Covid-19

Mia adalah satu dari tiga juta pekerja Indonesia yang di-PHK di masa pandemi ini. Namun, ia tidak berputus asa. Mendengar adanya lowongan sebagai operator Humanity Care Line, Mia pun melamar dan kini menjadi bagian dari tim Humanity Care Line.

Mia saat bercerita pengalamannya saat di-PHK akibat Covid-19 dan kembali bekerja di ACT. (ACTNews/Yudha Hadisana)

ACTNews, JAKARTA – Mia (25), karyawan swasta di salah satu Travel Online yang berlokasi di Jakarta Pusat terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), akibat perusahaan tempatnya bekerja tutup.

Penutupan perusahaan tempatnya bekerja merupakan kebijakan yang diambil sebagai imbas dari pandemi Covid-19. Mia diberhentikan dari pekerjaannya dan tak diberikan gaji, dengan alasan penjualan di perusahaannya menurun drastis.

Dikutip dari Detik.com, per tangal 4 Mei sekitar 3 juta pekerja terkena dampak Covid-19. Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, mengatakan bahwa sebanyak 1,7 juta pekerja di antaranya sudah valid dirumahkan perusahaannya dan sekitar 1,3 juta lainnya masih dalam proses validasi. Mia merupakan satu di antara jutaan pegawai yang di-PHK akibat pandemi covid 19.

Di tengah ujian yang ia hadapi, Mia pun tak berputus asa. Ia rutin melihat lowongan-lowongan pekerjaan dari gawainya dengan harapan agar bisa kembali bekerja dan mendapat penghasilan kembali. “Aku melihat ada lowongan pekerjaan jadi operator untuk program Humanity Care Line di ACT, langsung aku apply di sana,” tutur Mia.

Mia bersyukur proses perekrutan sangat cepat dan berjalan lancar. Setelah ia melamar, ia langsung diwawancara. Keesokan harinya Mia langsung bergabung menjadi operator Humanity Care Line

Menurutnya, apa yang ia jalani saat ini seperti keajaiban yang hadir di saat pandemi seperti ini. It’s such a miracle saya dapat pekerjaan di saat pandemi. Di saat kantor lain banyak yang PHK karyawannya justru ada ACT yang merekrut karyawan,” ucap Mia, Rabu (6/5).

Mia telah bekerja di Humanity Care Line selama sepekan. Ia menceritakan pengalamannya yang membuat dirinya terus bersyukur atas apa yang terjadi.

“Saya pernah menerima telepon dari seorang ibu, ia seorang janda memiliki 2 anak dan tinggal mengontrak. Saat ini ia bekerja sebagai pengemudi ojol. Ibu itu bilang sepi order. Ramainya itu hanya saat menjelang buka puasa, tapi dia gak bisa keluar karena harus menemani anaknya buka puasa. Ibu tersebut juga harus menanggung biaya cuci darah ibunya,” tambah Mia.

Pengalaman tersebut membuat Mia amat bersyukur terhadap kondisinya saat ini. Mia juga bersyukur dengan hadirnya program Humanity Care Line. Program tersebut ia rasakan sangat membantu masyarakat Indonesia yang kini sangat membutuhkan bantuan pangan.

“Terlebih dengan adanya program ini, ACT banyak memberdayakan orang-orang yang terkena PHK seperti saya,” pungkas Mia.[]