Kisah Mualaf Menjadi Guru Mengaji dan Mendirikan Rumah Al-Qur’an

Sebagai mualaf, diberi amanah menjadi guru mengaji adalah beban yang sangat berat bagi Latifah, bahkan ia sempat khawatir. Namun dengan dukungan orang sekeliling, amanah tersebut bisa ia emban. Kini ia mendirikan rumah Al-Qur’an dengan jumlah santri 125 orang.

ustazah latifah oktaviani
Latifah saat ditemui di depan Rumah Quran Madinah Payakumbuh yang ia kelola. (ACTNews)

ACTNews, PAYAKUMBUH – Menjadi mualaf adalah suatu kebahagiaan bagi Ustazah Latifah Oktaviani. Dalam Islam ia bertemu dengan orang-orang baik, hebat, dan merasakan kehidupan yang nyaman dan tenang. Namun hidupnya sebagai muslim sempat mengalami beban yang berat saat mendapat amanah untuk menjadi guru mengaji.

Menjadi mualaf di tahun 2006 dan mendapat amanah untuk menjadi guru mengaji tiga tahun kemudian adalah beban berat yang harus ditanggung Ustazah Latifah. Ia khawatir jika nanti menerima amanah tersebut, ia tidak bisa menjalankannya karena pengetahuan Islamnya yang masih minim. 

“Nanti apa kata orang? Ustazahnya kok mualaf. Pasti belum mahir, pengetahuan Islamnya masih sedikit. Awalnya saya khawatir seperti itu, takut dicibir. Orang jadi malas belajar Al-Qur’an, karena yang mengajar mualaf, saya takut,” kata Latifah, Jumat (2/7/2021). 

Namun, lanjut Latifah, kekhawatiran itu tidak terjadi. Orang di sekelilingnya mendukung dan mempercayai Latifah. Bahkan, saat menjadi guru mengaji dirinya semakin banyak belajar tentang Al-Qur’an. Sehingga ia semakin yakin menjadi muslim. 

“Mungkin ini (menjadi guru ngaji) adalah jalan yang Allah kasih agar saya semakin yakin sama Islam, makannya diberi amanah itu. Setiap ujian di dalam hidup kita, pasti ada maksud yang kita tidak tahu,” jelasnya. 

Saat ini Latifah telah mendirikan Rumah Qur’an Madinah Payakumbuh (RQMP) di Koto Payakumbuh, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh. Sebanyak 125 santri yang belajar di rumah qur’an gratis. Latifah ingin agar Payakumbuh menjadi lingkungan yang qur’ani, masyarakatnya bisa belajar Al-Qur’an tanpa memikirkan biaya. 

“Tujuan mendirikan rumah Qur’an ini agar Payakumbuh menjadi kota yang Qur’ani. Setiap rumah ada yang membaca Al-Qur’an, bisa belajar membaca Al-Qur’an tanpa harus memikirkan biayanya dari mana,” pungkasnya. []