Kisah Musala Terapung di Pesisir Laut Banda Pascagempa

Gempa berturut-turut yang mengguncang Maluku akhir September lalu membuat sejumlah fasilitas umum rusak berat. Musala terapung menjadi salah satu rumah ibadah yang kini tidak dapat digunakan lagi.

Kisah Musala Terapung di Pesisir Laut Banda Pascagempa' photo
Kondisi Musala Terapung pasca gempa berturut-turut mengguncang Maluku, Kamis (26/9). (ACTNews/Rahman Ghifari)

ACTNews, MALUKU TENGAH  – Dua sisi dinding musala itu kini telah roboh, saling bertumpuk dan berserak di tanah. Meskipun sebagian dindingnya masih berdiri, namun kondisinya sudah retak dan miring sehingga tak kuasa menopang atap musala tetap tegak. Dinding dan atap yang sudah rusak itu tak kuasa menahan cipratan ombak laut dan hujan yang tercurah sehingga langsung membasahi lantai, menyisakan sajadah basah.

Musala Terapung yang dibangun tahun 1999 itu, selama ini menjadi saksi kesalehan masyarakat Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, Provinsi Maluku menunaikan salat berjamaah. Namun kini, musala yang tepat berada di sisi laut itu mengalami rusak berat. Gempa yang mengguncang hari Kamis(26/9) pagi merobohkan tiang penyangga bangunan. Saking hebatnya getaran gempa, posisi langgar sampai bergeser beberapa meter dari tempatnya semula berdiri. Semua orang yang mendatangi pesisir pantai Liang masih bisa melihat jelas lokasi awal tempat musala itu berdiri. Atap hijau dan kubah dengan lafaz Allah menjadi tanda bahwa musala itu pernah berdiri kokoh.

"Saat pertama kali dibangun pakai kayu. Lalu banyak yang menyumbang dan diganti dengan tembok," cerita Siti Pareha Samoah, warga Desa Liang, memulai cerita kepada ACTNews.

Setelah renovasi selesai dan musala berdiri kokoh, warga sempat berembug untuk memberikan nama musala. "Awalnya mau ditambahkan nama Al Bahar, karena Bahar itu kan artinya laut ya, tetapi lebih dikenal sebagai musala terapung. Jadinya namanya musala terapung," kisah Siti.


Kondisi Musala Terapung pasca gempa mengguncang Maluku berturut-turut pada Kamis (26/9). (ACTNews)

Sejak berdiri, musala terapung tak pernah sepi dari kegiatan keagamaan. Salat lima waktu adalah aktivitas religius yang tak pernah absen. Kumandang azan selalu memanggil masyarakat untuk salat berjamaah. Tak hanya itu, berbagai pengajian dan majelis taklim juga aktif menyemarakkan musala terapung. Siti mengatakan, sejumlah tokoh agama juga pernah datang dalam kegiatan majelis pengajian musala terapung. "Di sini juga digelar pengajian yang satu majelis dengan istri gubernur," tambahnya.

Kerusakan musala terapung membuat sedih warga desa Liang dan sejumlah tokoh agama yang kerap menyelenggarakan majelis di sana. Menurut Siti seorang ustaz bahkan menangis karena melihat kondisi musala itu sekarang.

Menurut Siti, musala terapung cukup dikenal masyarakat sehingga majelis besar biasa diselenggarakan di musala terapung. "Sebelum gempa hari Kamis, kegiatan pengajian diselenggarakan Sabtu (21/9), jamaah rombongan dari kota madya," kata Siti.

Hingga kini, belum ada kepastian terkait pembangunan kembali musala yang menjadi ikon dan kebanggaan Desa Liang. Warga desa Liang, Kecamatan Saluhutu, Maluku Tengah sangat berharap musala terapung bisa segara dibangun kembali agar masyarakat bisa kembali menunaikan salat berjamaah dan melanjutkan pengajian serta kegiatan majelis taklim di desa mereka.[]

Bagikan