Kisah Nenek Dinah Memulung di Masa Tua

Di usia senjanya, Dinah masih banting tulang dari jalan ke jalan, dari tong sampah ke tong sampah, agar bisa memenuhi kebutuhannya dan kedua cucunya sehari-hari. Padahal fisiknya sudah tidak maksimal, bahkan matanya sudah tidak dapat melihat dengan baik.

Kisah Nenek Dinah Memulung di Masa Tua' photo
Dinah bersama cucu-cucunya sedang memulung. (ACTNews/Akbar)

ACTNews, JAKARTA – Masa tua umumnya adalah perhentian. Setelah mengerahkan tenaga di masa muda, orang-orang yang memasuki usia senja akan merenggangkan aktivitas mereka. Beristirahat atau sesekali menghabiskan waktunya bersama anak dan cucu-cucu mereka.

Tapi bagi Mauluddinah, perhentian itu belum tiba, bahkan di saat ia kini berumur 67 tahun. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama kedua cucunya yang masing-masing berumur 6 dan 9 tahun di jalanan. Nenek yang akrab disapa Dinah ini, memikul karung di belakang punggungnya, sementara cucu-cucunya yang memulung barang dan sampah bekas.

“Kalau dipikir-pikir, hidup kok semakin tua bukannya semakin enak, tapi malah seperti ini. Kalau seumuran ibu ini biasanya hidupnya sudah enak di rumah, ini malah ibu capek. Kalau tidak capek, malah tidak punya uang, tidak bisa makan. Bingung jadinya. Kontrakan kadang nombok, malah sekarang masih ada tunggakan Rp100 ribu,” tutur Dinah ketika ditemui ACTNews di rumahnya kawasan Pedongkelan, Cengkareng, Jakarta Barat pada Jumat (17/1) lalu. Air matanya tumpah saat ia kembali memikirkan kondisinya.

Dari memulung, Dinah bisa menghasilkan Rp17 ribu - Rp20 ribu per hari. Terkadang ia libur dalam satu hari, mengingat usia sudah tak lagi mendukung untuk banting tulang. Matanya bahkan menderita katarak dan tidak bisa dioperasi lantaran gula darahnya yang tinggi.


Mata Dinah sudah tak berfungsi maksimal sejak menderita katarak beberapa tahun belakangan. (ACTNews/Akbar)

“Masih rabun, kalau melihat sesuatu tidak jelas. Kadang kelihatan, nanti kadang bingung karena tidak terlalu terlihat. Kalau memulung nenek yang bawa karung, anak-anak (cucu) yang mencari,” ujar Dinah. Dinah biasanya baru menjual hasil kerjanya setelah hampir sepekan.

Sembilan anak Dinah telah hidup berkeluarga masing-masing. Kedua cucunya tinggal dengan Dinah karena anaknya sendiri tidak sanggup merawat cucunya, dikarenakan kondisi kehidupan mereka yang tidak jauh berbeda.

“Kadang-kadang mau dekat (minta) ke anak, mereka juga kelaparan. Kalau mereka ada (uang), pasti menafkahi. Tapi anak nenek banyak yang tidak punya (uang) juga. Boro-boro buat nenek, kalau sampai diajak nyongkel (memulung) kadang uangnya untuk anak mereka juga,” cerita Dinah.

Harapan Dinah bila ia ada biaya, ia hanya ingin menyekolahkan kedua cucunya. Kedua cucunya kini putus sekolah dan Dinah ingin kedua anak itu bisa melanjutkan pendidikan mereka. Sehingga, kelak tidak menerima nasib yang sama denganya maupun orang tua mereka.

“Biar jangan nasibnya seperti ibunya, ayahnya, seperti nenek. Biar bagus nasibnya, jangan memulung seperti ini juga. Kita kalau lihat cucu senang, ikut bangga. Kalau susah, kita juga ikut sedih. Kadang-kadang suka kepikiran seperti itu sampai sakit,” ujar Dinah.

Dinah adalah salah satu dari calon penerima manfaat program Sahabat Keluarga Prasejahtera Indonesia (SKPI). Selain masyarakat prasejahtera, sasaran dari program SKPI kali ini adalah warga tunakarya, anak yatim, hingga lansia. SKPI bertujuan untuk menopang kebutahan pangan keluarga prasejahtera melalui layanan beras gratis. Beras terbaik yang diberikan merupakan produk Lumbung Beras Wakaf (LBW) binaan Global Wakaf – ACT. []


Bagikan