Kisah Niki Sumantri, Dai Tepian Negeri yang Menjaga Toleransi Umat

“Selama enam bulan mengikuti program Dai Tepian Negeri banyak pengalaman yang didapat. Dinamikanya lebih kompleks, saya jadi lebih tertantang untuk sedikit demi sedikit memperbaikinya, yang jelas saya bersyukur bisa menjadi bagian menyebarkan Islam di sini,” ujar Niki Sumantri, Dai Tepian Negeri di Dusun Haitaman, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Dai Tepian Negeri
Niki saat mengajar anak-anak di Dusun Haitaman. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, BELU  — Niki Sumantri (25) saban malam sibuk mencoret-coret kertas.  Bukan sekadar coretan, melainkan materi persiapan pelajaran. Ia mencoba mencari formula yang pas untuk para muridnya di pedalaman, tepatnya di Dusun Haitaman, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Niki adalah Dai Tepian Negeri yang dikirim Aksi Cepat Tanggap ke wilayah perbatasan Indonesia. Dusun Haitaman tempat Niki bertugas berjarak 18,2 kilometer dari perbatasan Indonesia-Timor Leste di Sarabau.

Niki mengaku banyak mendapatkan pengalaman dan melihat langsung dinamika umat di perbatasan. “Selama enam bulan mengikuti program Dai Tepian Negeri banyak pengalaman yang didapat. Dinamikanya lebih kompleks, saya jadi lebih tertantang untuk sedikit demi sedikit memperbaikinya, yang jelas saya bersyukur bisa menjadi bagian menyebarkan Islam di sini,” ujar Niki saat ditemui ACTNews usai mengajar, Ahad (18/4/2021). Misal, lanjut Niki, banyak orang tua masih tak acuh mendorong anak-anaknya mengaji. 

Menurut Niki, sejumlah faktor antara lain karena muslim di wilayah Niki bertugas adalah mualaf. Faktor lain adalah karena para orang tua banyak yang bermata pencaharian sebagai buruh di luar kota dan petani di ladang sehingga jarang berinteraksi dengan anak di rumah.

“Jadi di Haitaman bapaknya kerja jadi buruh di luar kota atau sopir, pulangnya seminggu atau sebulan sekali, ibunya petani di ladang atau cari kayu bakar keluar masuk hutan. Jadi jarang interaksi dengan anak, anak kurang didorong ikut ngaji, makannya yang ngaji sedikit cuma 4 anak dari sekitar 12 anak-anak muslim. Sebab itu, di sini masih perlu penyuluhan agama yang masif,” jelasnya.

Pengalaman Berharga

Meski begitu, Niki mengaku kagum dengan kondisi kehidupan masyarakat di tempat penugasan. Masyarakat yang berbeda keyakinan hidup berdampingan Salah satunya, kerukunan itu tergambar saat mereka saling bergotong royong dalam memenuhi kebutuhan. 

“Untuk membeli air satu tangki, masyarakat di sana itu patungan. Jadi nanti airnya dipakai bersama untuk minum dan memasak. Ada kesepakatan, air tidak boleh digunakan untuk mandi dan mencuci, mereka komitmen dengan aturan bersama itu,” ujar pria asli Serang, Banten itu.


Ustaz Niki Sumantri (ACTNews/Ubaidillah)

Fakta ini diamini salah satu muslim di Haitaman, Siti Halimah. Menurut Siti, sesama manusia yang hidup berdampingan dengan permasalahan yang sama, harus rukun dan saling bergotong royong dalam menghadapi dan menyelesaikannya. “Air di sini susah, jadi beli patungan, satu tangki Rp120 ribu. Warga yang bayar, siapa saja muslim atau bukan,  bisa pakai dengan syarat tidak boleh untuk mandi dan mencuci, kita setuju peraturan itu,” ujar Halimah.  Jumlah muslim di Haitaman sebanyak 20 KK. kehadiran agama Islam di Haitaman pun membuat kesan tersendiri bagi pemeluknya.[]