Kisah Para Penjaga Masjid Al-Aqsa

Kisah Para Penjaga Masjid Al-Aqsa

ACTNews, YERUSALEM - Masjid Al-Aqsa (Al Qibli), Kubah Batu, Masjid Marwani, serta sejumlah bangunan bersejarah dan keagamaan lainnya membentuk kesatuan Kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem. Secara status quo, Muslim Palestina diberikan hak penuh untuk beribadah di kompleks suci ini, yang mana pengelolaannya diserahkan oleh Jordania/Jerusalem Islamic Waqf. Sementara itu, akses masuk ke kompleks tersebut dikontrol oleh barikade satuan keamanan bersenjata Israel. Satu ironi yang hingga kini mengekang warga Palestina.

Namun demikian, selalu ada Muslim Palestina yang menjaga keberlangsungan ibadah umat Muslim di Masjid Al-Aqsa. Oleh warga lokal, Para Penjaga Kompleks Al-Aqsa ini dijuluki “Mourabitoun” (laki-laki) dan “Mourabitat” (perempuan).

Tanpa senjata yang menyertai, mereka berkeliling kompleks masjid. Satu hal yang ingin mereka pastikan, kompleks masjid tersebut harus bebas dari segala bentuk ibadah non-Islam, seperti yang tertuang dalam status quo Al-Aqsa. Teriakan “Allahu Akbar” menjadi satu-satunya senjata yang mereka gunakan tatkala ada pendatang (settler) yang mencoba melanggar status quo tersebut.

Dalam reportase Al-Monitor mengenai kondisi Al-Aqsa pada September 2015, Penjaga Kompleks Al-Aqsa kini didominasi oleh wanita. Mereka berkeliling dalam satu grup, benar-benar memonitor bahwa ibadah umat Muslim tidak terganggu oleh provokasi pendatang Israel.

“Turis dan pengunjung dari negara lain yang ingin berwisata rohani ke Kompleks Al-Aqsa kami sambut dengan baik dan hangat. Namun untuk para pendatang (settlers) yang mau beribadah di dalam masjid, kami dengan tegas mengusirnya. Masjid ini hanya untuk ibadah umat Muslim,” jelas salah satu Mourabitat, seperti yang dilansir dari Al-Monitor.  

Menurutnya, ketegangan di Al-Aqsa semakin intens selama sepuluh tahun terakhir ini. Para pendatang semakin tidak menghormati status quo yang ada dengan memaksa beribadah di Masjid Al-Aqsa. Hal ini yang membuat para Penjaga Kompleks Al-Aqsa tersebut semakin berjuang dalam melindungi Al-Aqsa.

Meskipun seringkali tindakan mereka dihadang oleh satuan keamanan Israel di Al-Aqsa, para Mourabitat tidak mengenal rasa takut. Apa yang mereka lakukan sama sekali tidak merugikan atau menyakiti siapapun. Tak ada aksi pengrusakan maupun kekerasan yang dilakukan.

“Kami hanya beribadah di Al-Aqsa ini sehingga seluruh dunia bisa melihat dan mendengar. Kami mempelajari Al-Quran, Hadits, dan jika seorang pendatang Israel datang, kami serempak bertakbir ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar’,” tegas Mourabitat tersebut. Dengan bertakbir, para Mourabitat merasa mendapat kekuatan untuk menjaga Al-Aqsa.

Kompleks Al-Aqsa memang tidak hanya menjadi tempat salat bagi Muslim Palestina yang berada di Yerusalem. Sepanjang hari, sejumlah Muslim duduk di pelataran masjid untuk melantunkan serta mengkaji ayat-ayat suci Al-Quran. Bahkan, kegiatan belajar mengajar pun biasa dilaksanakan di kompleks suci tersebut. Hampir seluruh sudut Al-Aqsa dipenuhi oleh Muslim yang dengan khusyuknya beribadah.

Sang Mourabitat lantas melanjutkan, rekan-rekannya biasa tinggal di dalam kelas yang terintegrasi dengan ruang salat Masjid Al-Aqsa. Setiap harinya mereka menggelar kajian Al-Quran dan Hadits.

Sementara itu, penjagaan Kompleks Al-Aqsa dilakukan secara bergantian. Ketika para Mourabitat beribadah di dalam masjid, sejumlah Mourabitoun bertugas memonitor kondisi Kompleks Al-Aqsa. Para Penjaga Al-Aqsa tidak membiarkan kompleks suci tersebut luput dalam penjagaan mereka.

“Kami hanya ingin Muslim tidak kehilangan hak untuk beribadah. Prinsip inilah yang menuntun kami untuk menjaga dan melindungi Masjid Suci Al-Aqsa,” ujarnya dalam.

Kesewenang-wenangan Israel atas Al-Aqsa menyulut kegeraman Muslim dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berbagai kendala mungkin membatasi ikhtiar kita untuk turut menjaga Al-Aqsa secara langsung. Namun setidaknya, kita bisa membantu dan membakar semangat para penjaga tempat suci yang menjadi kiblat pertama muslim sedunia itu: Para Penjaga Al-Aqsa. []

Sumber Foto: Reuters, AFP
Tag

Belum ada tag sama sekali