Kisah Pedagang Sayur Lapak Berutang dan Merugi Selama Pandemi

Pedagang sayur lapak kerap merugi akibat barang mereka tidak terjual. Jika sudah begitu, sayuran yang tidak terjual akan layu dan mesti dibuang. Ini membuat modal mereka tergerus dan mesti menutupinya dengan berbagai cara agar dagangan terus berjalan.

Abrohim, salah seorang pedagang sayur lapak sedang mencari cabai di kebun kecilnya untuk menambah dagangan. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BEKASI – Sawah dan ladang masih memenuhi Kampung Babakan, Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. Di kanan dan kiri jalan dipenuhi dengan pemandangan hijau yang luas di kampung yang hanya berjarak puluhan menit dari Kota Bekasi ini. Maka pencaharian warga mayoritas berhubungan dengan hasil-hasil tani.

“Kalau ini sudah punya tuan tanah semua,” ujar Ustaz Agus, tokoh masyarakat setempat, menunjuk sawah di hadapannya. Biasanya warga yang tidak memiliki tanah, kemudian bekerja sebagai pedagang hasil bumi di desa. Partai kecil ini biasanya disebut sebagai tukang sayur lapak.

“Biasanya tukang sayur lapak cari barang ke petani-petani dari sore hari, untuk kemudian dijual lagi di pasar. Kalau kebetulan petani juga lagi habis panennya, mereka ke pelelangan, tukang sayur yang modalnya gede. Baru kemudian mereka berjualan jam 12 malam sampai pagi di pasar,” terang Ustaz Agus pada Jumat (28/8) lalu.

Ustaz Agus tak tahu persis berapa banyak orang yang bekerja sebagai tukang sayur lapak di Kampung Babakan, namun ia memperkirakan ada puluhan. Pekerjaan itu juga yang menghidupi mereka dari hari ke hari. Seperti Abrohim atau yang akrab disapa Bang Bro, yang telah menjadi pedagang sayur sejak 25 tahun lalu.


“Bisa ngabisin Rp2 jutaan buat modal belanja. Banyak macamnya, campur-campur dan kita beli serba sedikit. Dari kangkung, bayam, daun singkong, ada oyong, kacang panjang, labu,” jelas Bang Bro. Jika dagangannya laku semua, Bang Bro bisa menghasilkan Rp150 ribu hingga Rp200 ribu bersih seharinya. Sisanya sebanyak Rp2 juta digulirkan kembali sebagai modal.

Tetapi berjualan tidak selalu manis. Bang Bro bercerita tempo hari ia pernah membuang begitu saja kangkung dan bayam karena tidak laku di pasar. Kangkung dan bayam adalah jenis sayuran yang gampang layu sehingga tak tahan lebih dari satu malam.

“Dibuang sudah (kalau tidak terjual dalam semalam), karena tidak tahan lama dia. Kadang modal juga enggak kepulangan. Biasa memang namanya usaha di pasar, hari ini tidak habis, besok habis,” ujar Bang Bro.

Bagi mereka yang ternyata modalnya benar-benar tidak dapat ditutupi, terkadang mesti berutang modal dahulu kepada para petani. Nantinya si pedagang akan menjanjikan untuk membayar sayur-sayuran yang mereka dapat dari petani selepas berjualan. Seperti yang dilakukan oleh Darman.


Darman sedang memuat dagangan ke atas motornya untuk dia bawa ke pasar tengah malam. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kalau tidak ada modal dan kehabisan, ya begitu. Dapat untung Rp500 ribu, tapi masih ada sangkut pautnya dengan si petani. Di lapangan ya seperti itu, kita bawa dahulu, nanti baru selesai jualan kita berikan uang modalnya ke petani,” jelas Darman.

Kadangkala modal yang dijanjikan kepada para petani itu tidak mampu terkucukupi juga sepenuhnya. Maka berutang akhirnya menjadi jalan lain. Darman sempat berutang ke keluarga-keluarga dekat sampai rentenir, yang biasa dikenal sebagai bank deprok, untuk menutupi utangnya.

“Memang ada sih, tapi sedikit (meminjamnya). Itu kita pinjam karena terpaksa. Karena kalau kita sudah berdagang ke sana ke mari tapi sedang tidak laku dan rugi, modal yang kita punya habis. Kalau saudara sedang tidak ada uang, kita mau ke mana? Ya sudah, itu saja (bank deprok) solusi yang paling mudah. Itu pun untuk menutupi juga (modal), agar si petani tidak kecewa,” ceritanya.

Berikhtiar mendukung usaha para pelaku usaha mikro, Global Wakaf – ACT menginisiasi program Wakaf Modal Usaha Mikro. Program ini bertujuan untuk membebaskan pelaku usaha mikro dari jeratan utang dan riba agar proes produksi serta transaksi jual-beli lebih berkah. Pelaku usaha mikro meliputi produsen pangan di hulu maupun pedagang kecil di hilir.


Dengan dasar sistem Qadhr al-Hasan, Wakaf Modal Usaha Mikro memiliki peran dalam membangun komitmen para pelaku usaha penerima modal, sehingga para penerima manfaat senantiasa bertekad dalam membangun bisnisnya untuk lebih maju dan berkembang. Pemberdayaan menjadi hal mendasar demi mendorong turunnya angka kemiskinan.  

“Harapannya dengan adanya instrumen ini, masyarakat bisa mengembangkan usahanya lebih maju lagi di masa sulit ini. Selain itu, mereka mulai beralih dan tidak lagi berutang kepada bank deprok tadi. Jadi dampak-dampak bunga yang memberatkan bisa kita minimalisir,” tutur Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT.

Wahyu pun berharap, para dermawan dapat berpartisipasi dalam program ini sehingga para pelaku usaha kecil seperti yang ada di Kampung Babakan bisa menjalankan usahanya dengan lebih lancar dan tentunya lebih berkah. ”Kami berencana untuk membantu para pelaku usaha di Kampung Babakan, dan sekaligus mengajak juga kepada para dermawan untuk membantu para pelaku usaha yang saat ini sedang kesulitan karena kendala permodalan. Melalui bantuan para dermawan sekalian di program Wakaf Modal Usaha Mikro, mudah-mudahan kita bisa membantu meringankan beban mereka,” harap Wahyu. []