Kisah Pengungsi Lebak Bertahan dari Panas dan Dinginnya Tenda Darurat

Udara pengap nan panas mengepung tenda pengungsian warga Kampung Seupang, Pajagan, Sajira, Lebak. Hampir dua bulan lamanya ratusan warga tinggal di sana pascabanjir bandang menerjan permukiman mereka.

Kisah Pengungsi Lebak Bertahan dari Panas dan Dinginnya Tenda Darurat' photo
Tenda pengungsian milik warga Kampung Seupang, Pajagan, Sajira, Lebak, Senin (17/2). Telah sebulan mereka bertahan pasca banjir bandang menghantam permukiman mereka. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, LEBAK Sambil menggendong anaknya yang masih balita, Juhaedi berdiri di depan tenda tempatnya mengungsi. Udara sepoi jadi alasan ia berada di luar tenda sore itu, Sabtu (15/2). Kegiatan ini sekarang rutin dilakukan Juhaedi agar anaknya tak menangis tiap siang hingga sore. Hawa panas selalu mengepung tenda tempat Jahaedi dan keluarganya tinggal.

Keluarga Juhaedi merupakan salah satu di antara 70-an kepala keluarga yang mendiami pengungsian di Desa Pajagan, Sajira, Lebak. Tempat yang sebelumnya merupakan kebun bambu itu dijadikan pengungsian warga dari Kampung Seupang, pascabencana banjir bandang awal Januari 2020 lalu. Hingga kini, puluhan tenda masih berdiri, menampung 285 jiwa yang bertahan.

Ngungsi di sini ya dari waktu kejadian banjir itu, tanggal 1 Januari. Namanya pengungsian, ya seadanya saja, yang penting ada tempat buat tinggal sementara,” ungkap Juhaedi kepada tim ACTNews.

Juhaedi menambahkan, tinggal di dalam tenda sangat tidak nyaman, apalagi ia memiliki anak yang masih balita. Saat cuaca cerah, udara dalam tenda sangat panas. Sedangkan ketika hujan atau malam udara berubah menjadi dingin, bahkan tak jarang tenda yang dirakitnya itu bocor.


Kompleks pengungsian warga Kampung Seupang, Pajagan, Sajira, Lebak. Sebanyak 70an tenda berdiri di atas lahan kebun bambu yang jaraknya lebih kurang 100 meter dari lokasi terdampak banjir bandang. (ACTNews/Eko Ramdani)

Serupa dengan Juhaedi, Hidayat merupakan warga Kampung Seupang yang kini tinggal di dalam tenda pengungsian. Hidayat mengungsi bersama istri dan anaknya yang berusia tiga tahun. Hidayat merakit tenda pengungsiannya layaknya rumah panggung. Cara ini dilakukan demi menghindari rasa dingin dan lembab dari lantai tanah.

Tak ada kamar mandi pribadi di pengungsian warga Kampung Seupang. Mereka memanfaatkan fasilitas kebersihan yang telah dibangun oleh dermawan di sudut-sudut kompleks pengungsian. Persediaan air pun mereka dapatkan dari distribusi air atau sumur milik warga sekitar pengungsian.

“Kalau buat makan ya masak sendiri, bahan makanan dapat dari bantuan. Atau kalau ada yang ngasih makanan matang kayak dari ACT kemarin ya jadi bisa lebih hemat,” ungkap Hidayat yang bekerja serabutan ini, Senin (17/2).

Kehidupan di pengungsian memang serba terbatas. Namun warga Kampung Seupang yang menjadi korban banjir bandang hanya mencoba mengikhlaskan. Termasuk anak-anak yang kini belajar di sekolah darurat. Sekolah mereka kini berupa tenda beralas papan. Walau begitu, keceriaan tetap terpancar dari anak-anak, mereka masih terlalu dini untuk merasakan duka bencana di kampung tempat tinggal mereka sendiri. []


Bagikan