Kisah Relawan Gholib, Terjang Bengawan Solo Demi Antarkan Bantuan

Tahun 2007 menjadi titik awal Gholib bergabung menjadi relawan MRI. Saat itu banjir besar menerjang wilayah Bojonegoro, Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada waktu itu tengah mencari tempat tinggal untuk dijadikan posko bantuan. Belum juga dapat, tempat tinggal Gholib yang akhirnya dijadikan posko.

Sunhaji Gholib
Sunhaji Gholib Mohd Khalel relawan MRI Bojonegoro melakukan asesmen. (ACTNews)

ACTNews, BOJONEGORO – Sunhaji Gholib Mohd Khalel seorang relawan MRI Bojonegoro yang kini berusia 73 tahun tak pernah sekalipun absen dalam giat kerelawanan. Gholib masih sangat aktif dalam setiap agenda yang dilakukan MRI Bojonegoro. Termasuk saat membantu korban banjir di Kecamatan Baureno, Bojonegoro.

Kala itu, tahun 2017, Gholib dan para relawan MRI harus menembus sungai Bengawan Solo untuk mengantarkan bantuan. Ia yang diamanahkan sebagai Koordinator Daerah MRI Bojonegoro menyewa perahu kecil bermuatan sekitar lima sampai enam orang. Mereka pun menerobos sungai terpanjang di Pulau Jawa itu.

Gholib bertugas memacu perahu motor menuju Desa Mojo Ngudi dan Desa Mojo Pencol. “Kami berikhtiar karena mengetahui warga di sana sudah kehabisan air. Enggak ada air bersih untuk minum. Kami hanya berpikir harus segera tiba dan menyampaikan amanah,” kata Gholib.

Awal mula bergabung dengan MRI

Meski usia sudah terbilang tak muda lagi, semangat Gholib menjadi relawan MRI patut diacungi jempol. Pengalaman Gholib di kerelawanan kurang lebih 26 tahun saat berada di Arab

Tahun 2007 menjadi titik awal Gholib bergabung menjadi relawan MRI. Saat itu banjir besar menerjang wilayah Bojonegoro, Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada waktu itu tengah mencari tempat tinggal untuk dijadikan posko bantuan. Belum juga dapat, tempat tinggal Gholib yang akhirnya dijadikan posko.

“Yang minta tempat tinggal saya dijadikan posko adalah Pak Ahyudin (saat ini sebagai Ketua Dewan Penasihat MRI). Saya persilahkan. Saya sekalian bantu-bantu menjadi relawan. Setelah banjir itu, dibentuklah MRI di Bojonegoro. Di situlah saya mulai berkiprah di dunia kemanusiaan,” katanya.

Menjadi relawan, bagi Gholib untuk mencari ridha Allah. Ia berusaha menjadikan setiap yang ia kerjakan sebagai sebuah ibadah.

Selain di Bojonegoro, Gholib juga sering terlibat menjadi relawan di berbagai daerah. Seperti saat gempa di Garut, longsor di Palu, dan respons letusan Gunung Kelud meletus. 

“Bahkan kemarin waktu kejadian di NTB sama Palu, saya ingin sekali terjun ke sana. Tapi kemudian saya menyadari bahwa umur dan gerak saya tidak seperti anak-anak muda. Saya tetap memberi semangat pada relawan-relawan yang berangkat, walau niat saya sendiri tidak kesampaian,” katanya.[]