Kisah Rohingya Jalani Ramadan 2018 di Pengungsian

Tahun ini, Rohingya masih jalani Ramadan di Kamp Pengungsian

Kisah Rohingya Jalani Ramadan 2018 di Pengungsian' photo

ACTNews, COX’S BAZAAR – Beragam cerita tentang Ramadan dijalani orang-orang Rohingya. Kisah antara lain datang dari para pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian Kutupalong, Cox’s Bazaar, Banglades. Ramadan 1439 Hijriah lalu adalah kali pertama orang-orang Rohingya menjalani Ramadan dan hari raya Idulfitri di pengungsian. Tragedi kemanusiaan diikuti eksodus pada medio 2017 membuat mereka tidak lagi bisa menjalani Ramadan seperti di kampung halaman.

Abdurrahim (47) duduk termenung di sebuah bangku, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Kepada Aksi Cepat Tanggap ia mengaku tidak pernah menyangka akan menjalankan Ramadan di kamp pengungsian, sebuah tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Saya hanya bergantung kepada Allah saja. Memang sangat sedih, kami harus melewati Ramadan dan Idulfitri nanti di tempat pengungsian. Padahal sebelumnya kami masih bisa menjalankan ibadah Ramadan di kampung halaman,” kata Abdurrahim pada Ramadan 2018.


Keprihatinan Abdurrahim tentu beralasan. Hidup di pengungsian semua serba terbatas dan bergantung pada bantuan yang ada. Hal yang sangat berbeda ketika mereka masih berada di kampung halaman.

Ramadan lalu pula, derma masyarakat Indonesia sampai kepada mereka yang di terpaksa bermukim di Kamp Pengungsian Kutupalong. Kala itu, 1.000 unit Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) untuk pengungsi Rohingya dibangun di Kamp Kutupalong. Peresmian pembangunan ICS Rohingya Kutupalong kala itu ditinjau langsung oleh Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap Syuhelmaidi Syukur. Pembangunan ICS menjadi salah satu ikhtiar menyejahterakan pengungsi Rohingya menjelang bulan suci Ramadan. Syuhelmaidi berharap para pengungsi Rohingya bisa menjalankan ibadah di bulan penuh berkah dengan nyaman, seperti layaknya umat Islam di Indonesia.


Ketika Ramadan tiba, ribuan paket pangan sahur dan iftar pun didistribusikan bagi pengungsi Rohingya di Banglades maupun di Myanmar. Ayesha (35), salah satu pengungsi Rohingya bersyukur dengan bantuan berbuka puasa untuk mereka terima. “Alhamdulillah, kami sekeluarga bisa berbuka puasa bersama. Anak-anak saya senang sekali. Terima kasih atas makanan iftarnya, semoga masyarakat Indonesia dilimpahi berkah oleh Allah SWT,” doa Ayesha pada Ramadan lalu.

Pun pada Ramadan 1440 Hijriah, pengungsi Rohingya masih harus menjalankan Ramadan di pengungsian.Pada Ramadan tahun ini pula, Aksi Cepat Tanggap berikhtiar menyokong kebutuhan pangan pengungsi Rohingya dalam bentuk paket iftar, paket pangan, dan eid gift. []

Bagikan

Terpopuler