Kisah Shaban, Bocah 8 Tahun yang Buta karena Bom Israel

Mohammed Shaban tengah pergi ke pasar di Jabalia, Gaza Utara untuk membeli pakaian Idulfitri. Namun, bom dari pesawat tempur Israel dijatuhkan di dekatnya. Kini, bocah 8 tahun tersebut mengalami kebutaan usai serpihan bom mengenai matanya.

mohammed shaban
Mohammed Shaban, bocah 8 tahun yang buta karena terkena dari Israel. (AFP/Mahmud Hams)

ACTNews, GAZA – Mohammed Shaban (8) merupakan salah satu anak Palestina di Gaza. Ia tengah membeli pakaian untuk dikenakan pada perayaan Idul Fitri, ketika pasar tempatnya berbelanja tiba-tiba terkena serangan udara zionis Israel pada 10 Mei lalu. Hal tersebut membuat pecahan peluru dari ledakan mengenai mata dan wajahnya.

Meski telah melewati perawatan panjang oleh dokter di Gaza, namun Shaban belum bisa kembali normal seperti sediakala. Pecahan peluru tersebut membuat Shaban kehilangan penglihatannya.

“Saya awalnya tidak tahu kemana Shaban pergi saat itu. Namun, orang-orang di sekitar saya memberi tahu bahwa Shaban terkena serangan udara (dari Israel) dan sedang dibawa ke rumah sakit. Saya segera ke sana dan dokter memberi tahu saya bahwa Shaban masih belum sadar. Dia telah kehilangan banyak darah dan matanya bengkak, serta pecahan peluru masih berada di kepalanya,” ujar Hani Shaban, ayah dari Mohammed Shaban.

Setelah dinyatakan buta, kedua orang tua Shaban pun terus berupaya membuat Shaban bisa beradaptasi dengan ketidakmampuan untuk melihat. Namun, nampaknya serangan Israel yang mengenai Shaban juga berdampak pada mentalnya. Ia sering terbangun di malam hari dalam kondisi cemas dan tubuh yang bergetar. Beberapa kali ia juga berteriak ketakutan.

"Saya ingin pergi ke sekolah melihat teman-teman saya, dan ingin melihat saudara perempuan saya, dan saya ingin melihat ibu dan ayah saya, dan bermain dengan teman-teman," kata Shaban dengan polos.

Sementara itu, Ibu dari Shaban, Somaya Shaban mengatakan, hampir setiap hari anaknya tersebut mengalami kesulitan tidur, meskipun hanya beberapa jam. Somaya terpaksa memberikan Shaban obat penghilang rasa sakit dan obat penenang bisa beristirahat.

“Dia mulai bertanya kepada kami pertanyaan-pertanyaan yang berat untuk kami jawab. Seperti 'kapan aku bisa melihat lagi?'. Dia juga akan bangun di malam hari dan bertanya kepada kami apakah itu siang hari atau malam hari. Kemudian ia akan bertanya apakah saudara-saudaranya sudah bangun atau masih tidur," kata Somaya.

“Shaban adalah anak yang paling saya sayangi. Kemana saya pergi, pasti dia ikut bersama saya. Dia juga sangat penurut, dia selalu membantu saya untuk mengerjakan pekerjaan. Namun setelah tidak bisa melihat, ia menjadi sedikit berubah. Ia menjadi mudah marah dan mengabaikan panggilan orang tuanya,” tambahnya.

Shaban hanya satu dari banyak anak di Gaza yang terdampak bombardir zionis Israel Mei lalu. Total, dari 248 warga Gaza yang tewas karena serangan tersebut, 66 di antaranya adalah anak-anak.[]