Kisah Sholah Athiyah yang Jadikan Allah Mitra Bisnisnya

Setelah lulus dari Fakultas Pertanian, Sholah Athiyah bersama 9 kawannya berusaha mewujudkan bisnis peternakan bersama. Di tengah kesulitan modal, mereka memilih Allah sebagai mitra yang ke-10. Dari sanalah, bisnis berkembang pesat bahkan bisa mengembangkan Kota Tafahna Al Asyraf di Mesir.

Ilustrasi Masjid Al-Azhar di Kairo, Mesir. (ACTNews)

ACTNews, MALANG – Ada kota kecil di Mesir bernama Tafahna Al Asyraf di Provinsi Daqahliyah. Kota yang sunyi dan akses ke mana pun terbilang sulit. Satu pemuda berasal dari kota itu bernama adalah Sholah Athiyah. Dosennya di Universitas Al-Azhar Syekh Dr. Mustafa Dasuki Kasbah bahkan mengatakan ketika kuliah Sholah hanya mempunyai satu celana panjang.

Setelah lulus dan menjadi insinyur, Sholah mengajak 9 kawannya sesama lulusan fakultas pertanian untuk berbisnis bersama. Mereka pun membuat bisnis peternakan unggas. Namun selayaknya bisnis, ada yang tidak berjalan begitu baik, salah satu benturannya adalah modal. Mereka pun mengumpulkan modal dari penjualan tanah, perhiasan istri-istrinya, sampai meminjam agar bisnis berjalan. Bersamaan itu juga mereka mencari mitra ke-10 agar bisnisnya mampu berjalan.

Satu kali Sholah menuntaskan pertanyaan teman-temannya tentang mitra ke-10 tersebut. “Aku sudah menemukannya,” katanya. Rasa penasaran pun menghampiri, ”Siapa?” tanya mereka. “Allah,” jawab Sholah singkat. “Allah akan menjadi mitra usaha kita yang ke-10. Allah akan mendapat 10% dari usaha kita. Dengan perjanjian, Allah yang akan memberikan perlindungan dan pemeliharaan, keamanan dari segala wabah penyakit,” lanjutnya. Saking seriusnya mereka dengan perjanjian tersebut, mereka bahkan menuliskan perjanjiannya dan diserahkan kepada notaris, lengkap dengan peran-peran dari Sang Mitra ke-10.

Dan Sang Mitra Terbaik tak pernah ingkar pada janjinya. Dalam satu musim, bisnis itu pun meroket. Sejalan dengan pesatnya bisnis, keuntungan Sang Mitra terus dinaikkan dari 20% sampai 50%. Pembagian hasil itu bermuara kepada pembangunan sekolah dari SD hingga SMA untuk putra dan putri. Tapi keuntungan terus bertambah hingga akhirnya tebesit sebuah ide untuk membangun universitas di sana, sebuah perkampungan kecil.


Tak tanggung, demi membangun sebuah universitas yang mudah diakses, mereka juga membangun universitas itu lengkap dengan jalur kereta yang gratis bagi mahasiswa. Asrama putri berkapasitas 600 orang dan asrama putra berkapasitas 1.000 orang serta rumah sakit berdiri di dekat kampus dengan 5 fakultas itu. Universitas Al-Azhar Tafahna namanya.

“Sekarang banyak mahasiswa Indonesia yang di sana, di Universitas Al-Azhar daerah Tafahna. Anak saya yang kedua itu pernah merasakan wakaf dari rumah sakit wakaf ini. Dari kehamilan sampai kelahiran itu gratis. Ini sinergi antara wakaf dan zakat untuk pembiayaannya. Kami dapat surat pengantar dari rumah sakit itu untuk scan. Kami kira scan-nya di rumah sakit yang lain, tetapi ternyata di basement sebuah masjid. Alat-alatnya sangat canggih dan di depannya ada tulisan, ’Kepada para pengunjung kami beritahukan alat-alat ini dibiayai dari zakat, mohon kepada yang tidak berhak menerimanya tidak menggunakan fasilitas ini’,” cerita Dr. Ahmad Jalaludin, Lc. MA, Pakar Ekonomi Syariah saat masih berkuliah S2 di Mesir.

Menurutnya, rumah sakit tersebut merupakan salah satu contoh bagaimana wakaf tidak hanya menjadi penopang fasilitas ibadah seperti masjid, tetapi juga hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat secara umum. Ia berharap hal ini bisa dikembangkan oleh sinergi antara lembaga-lembaga wakaf di Indonesia.


Ustaz Jalaludin sedang menjelaskan kisah wakaf Sholah Athiyah. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Perlu mengembangkan dari perlombaan kebaikan mencari wakaf, kepada pola bersinergi, bekerja sama di dalam mengembangkan wakaf. Dari fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) kepada at ta’awun ‘ala al-birri wa taqwa (saling membantu di atas kebaikan dan ketakwaan). Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang punya potensi skill, ada yang punya potensi finansial, ada yang punya potensi jaringan. Inilah yang kemudian bersinergi dan bekerja sama,” ungkap Ustaz Jalaludin di sela helatan Waqf Business Forum yang diselenggarakan oleh Global Wakaf – ACT di Malang, Ahad (22/11) lalu.

Harapannya tentu agar wakaf berkembang seperti yang dilakukan Sholah Athiyah. Akhirnya 100% usaha tersebut diberikan Sholah kepada Allah. Manfaat wakaf masuk ke kehidupan masyarakat mulai dari bantuan pangan, membuka lapangan pekerjaan di aset-asetnya, menyediakan hidangan buka puasa, hingga memberikan perabotan bagi perempuan yatim yang hendak menikah. Masyarakat begitu mencintai Sholah Athiyah karena kepeduliannya. Konon menurut Ustaz Jalaludin, ketika ia wafat pada 2016 lalu, bahkan ada sekitar 500.000 orang dari kampung tersebut yang mengantar kepulangannya. []