Kisah Teguh, Kuli Serabutan di Bekasi Menjadi Guru Mengaji

Penghasilan kecil dari menjadi kuli serabutan tak membuat Teguh semena-mena memungut bayaran dari para santri. Sebaliknya, ia semangat untuk terus mengelola TPA yang ia dirikan dengan uang hasil penghasilannya. Baginya ini ibadah dan Allah-lah yang akan membalas.

teguh aprianto
Teguh saat sedang mengajar mengaji. (ACTNews)

ACTNews, BEKASI Aksi Cepat Tanggap dan MRI Kota Bekasi terus memberikan bantuan biaya hidup untuk guru mengaji di Bekasi, Sabtu (31/7). Bantuan diberikan kepada Ustaz Teguh Pritanto (36), guru mengaji di Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi. Di mana harus menanggung operasional TPQ dengan dengan bekerja menjadi seorang kuli serabutan.  

Kondisi tersebut terjadi sejak sebelum pandemi Covid-19. Kondisi semakin memprihatinkan akibat pandemi Covid-19 dan PPKM. Upah mereka dibayar tak menentu kapan hingga berapa jumlahnya, bahkan seringkali tidak dibayar.

Sebagai pengasuh Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Al-Ikhlas, Kampung Setu, Kelurahan Bintara, Kecamatan Bekasi Barat, Teguh mengaku tidak membebankan biaya pendidikan kepada santri yang belajar. Operasional TPA bersumber dari dana yang ia cari melalui pekerjaan sampingan.

“Banyak orang tua murid yang nanya, berapa sebulan bayarnya? ‘wah enggak saya jual yang penting anak mau ngaji saja’ Artinya tidak mematok biaya bulanan. Karena insyaallah, Allah kasih jalan lain yang penting yakin, tawakal, tawadhu,” ujar Teguh, Sabtu (31/7).

TPA Al-Ikhlas sudah dua tahun berdiri dan berlokasi di pemukiman kampung pemulung. Namun ia sudah tinggal di wilayah tersebut sejak tahun 2007. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menafkahi keluarga, ia melakoni berbagai pekerjaan sebagai kuli serabutan.

“Kerja apa saja kadang kuli, tarik sampah, bayarannya Rp20 ribu sekali jalan pakai mobil, kadang juga angkut sampah kulit telur, kadang kayu bakar yang dibayar Rp15-20 ribu sehari. Beberapa kali juga bantu bangun rumah bedeng orang-orang di sini,” ungkapnya.

Tim ACT-MRI Kota Bekasi menyalurkan bantuan biaya hidup melalui program Sahabat Dai Indonesia (SDI) oleh Global Zakat – ACT. Selain biaya hidup, Global Zakat juga menyalurkan bantuan paket pangan.

“Alhamdulillah terima kasih ACT dan Global Zakat, insyaallah bantuan ini, selain untuk kebutuhan keluarga, juga akan digunakan untuk membuat tempat wudhu di sini (musala). Karena selama ini anak-anak kalau mau ngaji sama salat, wudunya di belakang, dan numpang sama warga,” ungkap Teguh. Teguh pun mengingatkan, untuk senantiasa bersyukur terhadap apapun nikmat yang telah Allah berikan dalam bentuk rezeki.  

Sementara itu, tim Program ACT Bekasi Ihsan menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menunaikan zakatnya lewat Global Zakat – ACT. Ia berharap agar bantuan tersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan guru ngaji tidak hanya untuk Teguh, namun juga guru ngaji lainnya di Bekasi.

“Maka dari itu demi meluaskan manfaat kami juga ingin mengajak masyarakat untuk turut mendukung program SDI melalui Global Zakat – ACT Bekasi di tautan Bekasi.indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia,” tuturnya.[]