Kisah Warga Warga Prasejahtera di Malang yang Dapatkan Beras Gratis

Kisah datang dari para penerima manfaat program Sahabat Keluarga Prasejahtera Indonesia (SKPI) di Malang. Suyatno dan Misti sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani tebu dan merawat ternak orang lain. Sementara Riyadi bekerja memulung sampah untuk memenuhi kebutuhan harian keluarganya.

Kisah Warga Warga Prasejahtera di Malang yang Dapatkan Beras Gratis' photo
Penyerahan bantuan beras dari program SKPI kepada Suyatno dan Misti. (ACTNews)

ACTNews, MALANG – Aksi Cepat Tanggap (ACT) Malang kembali mendistribusikan bantuan beras di Desa Gedangan, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Bantuan ini merupakan implementasi program Sahabat Keluarga Prasejahtera Indonesia (SKPI), yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang sangat membutuhkan. Beras terbaik yang diberikan merupakan produk Lumbung Beras Wakaf (LBW) binaan Global Wakaf – ACT

Pada pendistribusian beras gratis pada Jumat (24/1) lalu, terselip kisah dari dua keluarga prasejahtera yang menerima bantuan tersebut. Salah satunya keluarga Suyatno dan Misti yang mengasuh cucunya, Ridho, sejak usia tiga tahun. Ridho sudah yatim dan ditinggalkan ibunya.


Mereka
bertiga tinggal di sebuah rumah yang reyot di mana tempat tidur, dapur, dan ruang keluarga menjadi satu. Rumah mereka harus disekat menjadi dua dan ruang yang disekat itu digunakan sebagai kandang sapi. Selain merawat ternak tetangganya, pekerjaan mereka setiap harinya adalah menjadi buruh tani tebu.

Penerima manfaat berikutnya dari keluarga Riyadi (65). Ia kini tinggal bersama 2 anak laki-lakinya. Sejak 1995, ia melakoni pekerjaan sebagai pemulung dan tinggal di rumah yang kurang layak ditempati. Riyadi tak punya banyak pilihan, "Saya tidak akan berhenti memulung sampai mati," ucap Riyadi saat bertemu dengan Tim ACT Malang.


Riyadi menangis menceritakan kesehariannya. (ACTNews)

Biasanya ia melakukan aktivitasnya selepas subuh dan kembali saat menjelang magrib. Setelah berkeliling seharian, ia setidaknya mendapatkan sekitar 16 ribu rupiah per hari, dan itu menurutnya masih belum mencukupi kebutuhan pangan keluarganya.

"Saya kadang sampai 4 hari tidak makan. Saya kuat-kuatkan, mas. Uangnya buat anak saya beli mi instan, kadang juga nasi sama garam," ucap Riyadi sambal tersenyum. Meskipun begitu, air mata tak kuat ia bendung.

Iqrok Wahyu Perdana dari Tim Program ACT Malang mengatakan, ke depannya program SKPI akan terus memberikan manfaat kepada warga-warga prasejahtera yang ada di Malang. Ia berharap kedermawanan masyarakat akan hadir untuk orang-orang seperti Suyatno, Misti, dan Riyadi.

“Ke depannya program SKPI ini akan terus menyasar para keluarga prasejahtera di Malang Raya agar tak pernah kita dengar lagi kisah keluarga Suyatno dan Riyadi yang menyesakkan dada kita. Memang masih banyak sekali keluarga-keluarga prasejahtera lainnya, oleh karenanya ini membutuhkan kepedulian dan kedermawanan kita semua,” ujar Iqrok. []


Bagikan